PHILADELPHIA — Peta kekuatan divisi lightweight bergetar hebat saat Ilia Topuria secara mengejutkan tumbang di tangan Justin Gaethje pada gelaran bersejarah UFC Freedom 250 di halaman South Lawn, Gedung Putih, 14 Juni lalu. Dihentikan oleh sudut petarungnya sebelum ronde kelima akibat patah tulang rongga mata (orbital bone), rekor tak terkalahkan 17-0 milik Topuria sirnah sekaligus melayang gelar juaranya di pertahanan pertama. Gaethje, yang datang sebagai underdog tidak diunggulkan, sukses mengukir salah satu kejutan terbesar tahun 2026.
Menanggapi kekalahan tragis mantan calon lawannya tersebut, raja welterweight Islam Makhachev angkat bicara. Hadir sebagai bintang tamu di siaran MIGHTYcast milik Demetrious Johnson, Makhachev meyakini bahwa Topuria masih memiliki seluruh modal untuk kembali menjadi juara dunia, namun ia menyimpan satu pertanyaan besar yang krusial.
"Dia masih muda, bro. Dia masih punya banyak waktu. Saya berharap dia bisa bangkit dan kembali. Ilia itu petarung yang hebat, dia punya pukulan bagus dan wrestling yang mantap. Jika dia bisa kembali fokus, mungkin dia akan menjadi juara lagi," kata Makhachev.
"Namun, pertarungan itu jelas mengubah hidupnya. Hanya saja, kita belum tahu akan berubah ke arah mana."
Makhachev turut membeberkan analisanya mengenai apa yang salah malam itu. Menurut sang juara asal Dagestan, Topuria terlalu terobsesi mengejar kemenangan knockout ketimbang fokus memenangkan setiap ronde—meski Topuria sempat merobohkan Gaethje lewat pukulan ke arah badan sebelum laga dihentikan.
Di balik pujian Makhachev, tersimpan sebuah peringatan tajam. Mengalami kekalahan perdana di usia 29 tahun, di hadapan penonton terbanyak dalam sejarah MMA, serta diakhiri dengan lemparan handuk akibat cedera parah pada tulang wajah, adalah jenis trauma yang bisa menajamkan seorang petarung atau justru perlahan merenggut keberaniannya. Tidak ada yang tahu dampaknya sampai Topuria kembali menerima pukulan bersih di dalam sangkar.
Kekhawatiran terbesar terletak pada gaya bertarungnya. Seluruh dinasti Topuria dibangun di atas fondasi boxing yang luar biasa tajam setelah secara beruntun menumbangkan nama-nama besar seperti Alexander Volkanovski, Max Holloway, dan Charles Oliveira. Petarung yang baru saja mengalami kerusakan parah di area utama yang paling mereka andalkan cenderung menjadi lebih berhati-hati tanpa mereka sadari—dan bagi seorang pressure striker, sifat ragu-ragu di dalam oktagon adalah sebuah petaka fatal.
Editor : Indra ZakariaSumber : prokal.co