TIBLISI — Juara kelas bantam UFC, Merab Dvalishvili, akhirnya memberikan klarifikasi tegas mengenai reaksi kerasnya saat melihat tim Islam Makhachev membawa bendera Rusia ke dalam oktagon. Petarung asal Georgia ini menegaskan bahwa sikapnya murni bentuk protes terhadap rezim politik pemerintah Rusia, bukan kebencian personal terhadap Makhachev maupun rakyat Rusia.
Dvalishvili secara terbuka menyampaikan rasa hormatnya kepada sang juara kelas ringan tersebut sebelum membeberkan alasan di balik kejengkolannya. "Saya menyukai Islam Makhachev. Saya pikir dia adalah juara yang hebat dan rendah hati. Saya menghormati semua kerja keras yang telah dia lakukan untuk karirnya, saya tidak punya apa-apa selain rasa hormat untuknya," kata Dvalishvili.
Namun, pemandangan bendera Rusia di dalam sangkar menimbulkan kekecewaan mendalam baginya karena aturan ganda yang ia rasakan selama ini. "Ketika melihat timnya membawa bendera Rusia ke dalam Octagon, saya merasa kesal. Alasan pertama, selama kelima pertarungan gelar UFC saya, saya tidak pernah diizinkan membawa bendera Georgia atau Amerika saya ke dalam kandang," tambahnya.
Selain isu regulasi, Dvalishvili menekankan bahwa penolakannya terhadap bendera tersebut berakar dari sejarah kelam dan agresi politik yang dialami tanah airnya.
"Alasan kedua bagi saya sangat pribadi karena apa yang dilakukan oleh politik dan pemerintah Rusia terhadap negara saya. Rusia menduduki sekitar 20% wilayah Georgia, dan ada sejarah perang, pendudukan, serta penderitaan bagi rakyat saya. Rusia juga bertanggung jawab atas kekerasan di Chechnya dan pembunuhan yang masih berlangsung di Ukraina hingga hari ini," tegas Dvalishvili.
Ia menggarisbawahi perbedaannya dengan meluruskan pandangannya terhadap masyarakat awam serta keberagaman budaya di kawasan Kaukasus.
"Saya ingin memperjelas satu hal: Saya tidak membenci rakyat Rusia. Masalah saya adalah dengan pemerintah dan tindakannya. Bagi saya, rakyat Kaukasus — Dagestan, Chechnya, Ingushetia — memiliki identitas, budaya, dan sejarah mereka sendiri yang sangat saya hormati. Jadi sekali lagi, ini tidak pernah tentang Islam secara pribadi."
Menutup pernyataannya, Dvalishvili juga menyindir media-media Rusia yang dinilainya sering melempar pertanyaan provokatif dan memotong narasi demi kepentingan propaganda. "Kenyataannya adalah pemerintah Rusia adalah kediktatoran dan korup. Tidak ada kebebasan berbicara, dan jika Anda memprotes apa pun di sana, Anda akan masuk penjara. Ini adalah fakta," pungkasnya. (*)
Editor : Indra ZakariaSumber : prokal.co