LAS VEGAS — Bintang tak terkalahkan kelas welter, Shavkat Rakhmonov, memang belum resmi mengibarkan bendera putih untuk pensiun dari Ultimate Fighting Championship (UFC). Namun, secara blak-blakan, petarung berjuluk "Nomad" ini mengakui bahwa peluangnya untuk kembali menjejakkan kaki di arena Octagon kini sangat tidak pasti.
Rakhmonov terpaksa menepi dari hiruk-pikuk pertarungan sejak kemenangannya atas Ian Garry pada Desember 2024 silam. Kemenangan tersebut rupanya harus dibayar sangat mahal. Ia nekat masuk ke arena dengan kondisi cedera lutut parah, sebuah keputusan yang kini meninggalkan kerusakan jangka panjang bagi masa depannya di divisi 170 pon.
Dalam wawancara terbarunya bersama Alf Global, Rakhmonov merenungkan kembali laga berdarah kontra Garry. Ia secara terbuka menyesali keputusannya memaksakan diri. Menariknya, dalam penyesalan tersebut, ia turut menyentil mentalitas para bintang asal Dagestan, termasuk Khabib Nurmagomedov dan Islam Makhachev, yang menurutnya tidak akan berani mengambil risiko gila seperti dirinya.
"Andai saya bertarung (dalam kondisi fit), saya mungkin sudah menjadi juara saat ini. Tapi begitulah kenyataannya, saya cedera. Sejujurnya, saya bahkan seharusnya tidak melawan Ian Garry sama sekali," ungkap Rakhmonov.
Meski tahu tubuhnya hancur, petarung asal Kazakhstan ini memilih tetap maju dengan alasan harga diri.
"Dengan cedera separah itu, saya hanya mengambil risiko. Itulah cara orang Kazakh. Kami sangat berani dan tidak kenal takut. Kalau saja itu petarung Dagestan seperti Khabib atau Islam Makhachev, mereka pasti sudah menolak pertarungan itu," sindirnya tajam.
Lebih jauh, Rakhmonov membeberkan betapa parahnya kondisi fisik yang ia sembunyikan menjelang duel melawan Garry. Absen bertarung selama setahun membuatnya terlalu berambisi untuk segera comeback, meski rasa sakit dari cedera lamanya terus menyiksa.
Ia mengaku lututnya sudah bengkak parah sebelum bel pertarungan berbunyi. Kerusakan struktural pada kakinya bahkan sudah mencapai titik ekstrem di mana ia kehilangan kepekaan saraf saat menerima serangan lawan.
"Saya melangkah masuk membawa cedera lama yang sangat mengganggu. Kaki saya bengkak. Dan ketika dia melancarkan serangan (ke arah kaki), saya nyaris tidak merasakannya karena saya benar-benar sudah kehilangan ligamen," pungkasnya.
Kini, nasib sang "Nomad" sepenuhnya bergantung pada seberapa jauh keajaiban medis bisa mengembalikan kondisi lututnya. Para penggemar UFC tampaknya harus bersiap menghadapi kenyataan terburuk: kehilangan salah satu prospek juara paling mematikan di kelas welter sebelum ia benar-benar mencapai puncaknya. (*)
Editor : Indra Zakaria
Sumber : prokal.co