ABU DHABI — Panggung Etihad Arena di Abu Dhabi menjadi saksi bentrokan dua penguasa divisi bantamweight saat Petr Yan dan Merab Dvalishvili kembali berhadapan di gelaran UFC 333. Laga penutup babak trilogi ini bukan sekadar perebutan sabuk juara, melainkan pertaruhan gengsi demi menahbiskan siapa petarung terbaik sepanjang masa (G.O.A.T.) di kelasnya, di mana sang pecundang dipastikan akan tersingkir dari takhta pembicaraan tersebut.
Dua pertemuan sebelumnya menyisakan catatan yang teramat kontras. Pada duel perdana, "The Machine" Dvalishvili tampil sangat dominan lewat tekanan wrestling tanpa henti yang memecahkan rekor percobaan takedown terbanyak dalam sejarah UFC. Namun pada pertemuan kedua, "No Mercy" Yan membalas dengan sebuah pertunjukan taktis tingkat tinggi, mendaratkan kombinasi striking dan serangan tubuh yang meninggalkan bekas luka parah di wajah sang rival.
Persaingan yang begitu seimbang ini membuat peta kekuatan sulit ditebak, meski bursa taruhan menempatkan Petr Yan sedikit sebagai unggulan dengan peluang -158 dibanding Dvalishvili di posisi +124.
Bagi Petr Yan, kunci kemenangan terletak pada kemampuannya mengulang performa impresif seperti pada ronde pertama duel kedua mereka. Pria asal Rusia ini dikenal sebagai petarung yang memiliki teknik kickboxing tajam serta pertahanan grappling kelas dunia.
"Pertarungan ini tentang menjaga momentum sejak awal dan memberikan kerusakan bertahap," ungkap analisis taktik mengenai strategi Yan. Melalui pukulan tubuh (body shot), tendangan ke arah hati, serta sikut mematikan, Yan terbukti mampu mengikis stamina dan daya tahan luar biasa yang dimiliki Dvalishvili hingga melucuti ancaman sang lawan di ronde-ronde akhir.
Di sisi lain, Dvalishvili harus kembali ke akar permainannya jika ingin merebut kembali keagungan divisi. Keunggulan utama petarung asal Georgia ini adalah stamina tanpa batas dan gaya bertarung bagaikan bola salju yang makin bergulir makin membesar.
"Jika Anda membiarkan Merab membangun momentum dan menyeret Anda ke dalam lingkaran takedowns serta pukulan beruntunnya, tidak akan ada jalan untuk kembali," bunyi ulasan strategi bagi Dvalishvili. Untuk menang, ia harus menjadikan teknik boxing-nya sebagai pembuka jalan demi melancarkan low kick dan takedown entry, bukan malah terjebak berduel pukulan berdiri yang berisiko tinggi.
Melihat segala faktor teknis serta kondisi fisik kedua petarung, laga trilogi ini diprediksi akan berjalan sangat ketat dan sengit. Meskipun Dvalishvili memiliki potensi untuk memegang kontrol di kanvas, efektivitas serangan serta tingkat kerusakan (damage) yang dihasilkan oleh pukulan presisi Petr Yan diyakini akan menjadi pembeda utama di mata para juri saat bel akhir berbunyi. (*)
Editor : Indra ZakariaSumber : prokal.co