Kain Muslin Dhaka (atau dikenal sebagai Dhaka Mulmul) adalah salah satu tekstil paling legendaris dan mewah dalam sejarah peradaban manusia. Berasal dari Dhaka (sekarang ibu kota Bangladesh), kain ini dikenal karena kelembutannya yang ekstrem, transparansinya yang menyerupai kabut, dan proses pembuatannya yang sangat rumit.
Berikut adalah beberapa fakta utama yang menjelaskan keistimewaan Muslin Dhaka:
1. Kehalusan yang "Mustahil"
Muslin Dhaka sering dijuluki sebagai "Tenunan Udara" atau "Embun di Atas Rumput." Saking halusnya, kain ini memiliki karakteristik unik:
Uji Cincin: Selembar kain muslin sepanjang beberapa meter konon bisa ditarik melewati lubang cincin pernikahan yang kecil.
Transparansi: Saat dikenakan, kain ini tampak hampir tidak terlihat, memberikan kesan pemakainya seperti terbungkus kabut halus.
2. Bahan Baku Unik: Kapas Photi Karpass
Rahasia kehalusan kain ini bukan hanya pada teknik tenunnya, tetapi pada bahan bakunya. Kapas yang digunakan berasal dari tanaman Photi Karpass (Gossypium arboreum var. neglecta) yang hanya tumbuh di sepanjang tepi sungai Brahmaputra dekat Dhaka.
Tanaman ini membutuhkan kombinasi unik dari kelembapan tinggi dan mineral dari air sungai. Seratnya jauh lebih halus dan lentur dibandingkan kapas biasa, namun tanaman ini sekarang dianggap telah punah secara komersial.
3. Proses Pembuatan yang Melelahkan
Pembuatan sepotong kain muslin kualitas tertinggi bisa memakan waktu berbulan-bulan.
Pintal Manual: Benang dipintal menggunakan tangan oleh pengrajin muda (biasanya wanita karena jemarinya yang lebih sensitif) di pagi hari saat udara masih lembap agar benang tidak putus.
Alat Tenun Tradisional: Menggunakan alat tenun bambu sederhana, namun membutuhkan ketelitian luar biasa. Jumlah benang (thread count) pada Muslin Dhaka kuno jauh melampaui standar kain modern mana pun.
4. Simbol Status Bangsawan
Kain ini adalah komoditas mewah yang sangat dicari oleh:
Kekaisaran Mughal: Para kaisar dan permaisuri India sangat mengagumi kain ini.
Bangsawan Eropa: Pada abad ke-18, Muslin Dhaka menjadi tren fesyen tertinggi di Prancis dan Inggris (terkenal dikenakan oleh Marie Antoinette dan tokoh-tokoh era Regency).
5. Kepunahan Tragis akibat Kolonialisme
Industri Muslin Dhaka hancur di bawah pemerintahan kolonial Inggris (EIC). Inggris ingin melindungi industri tekstil mesin mereka di Manchester.
Mereka mengenakan pajak yang sangat tinggi pada muslin India dan, menurut sejarah/legenda kelam, Inggris bahkan memotong ibu jari para penenun ahli agar mereka tidak bisa menenun lagi dan merusak pasar tekstil Inggris.
Dalam satu dekade terakhir, pemerintah Bangladesh melalui lembaga penelitian telah mencoba menghidupkan kembali kain ini. Mereka mencari sisa-sisa benih tanaman Photi Karpass melalui pemetaan DNA dan berhasil menenun kembali "Muslin Dhaka Baru" pada tahun 2020-2021, meskipun skalanya masih sangat terbatas dan eksklusif.(*)
Editor : Indra Zakaria