OKLAHOMA — Di dunia pertanian, jagung biasanya identik dengan warna kuning cerah atau putih. Namun, terdapat satu varietas luar biasa yang tampak lebih mirip untaian perhiasan daripada hasil bumi, yaitu jagung Glass Gem. Dengan bulir-bulir yang transparan dan berkilau bak batu permata, jagung ini telah memikat jutaan pasang mata di seluruh dunia karena keindahan warnanya yang mencakup spektrum pelangi.
Keberadaan jagung unik ini bukanlah hasil rekayasa genetika laboratorium modern, melainkan buah dari ketekunan seorang petani asal Oklahoma, Carl Leon Barnes. Pada tahun 1980-an, Barnes yang memiliki darah keturunan Cherokee, memulai sebuah misi untuk terhubung kembali dengan warisan leluhurnya melalui budidaya varietas jagung kuno.
Melalui teknik persilangan tradisional yang teliti, Barnes menciptakan campuran dari tiga jenis jagung langka: jagung popcorn Pawnee mini, jagung merah Osage, dan jagung abu-abu Osage. Hasilnya melampaui ekspektasi; sebuah varietas baru lahir dengan bulir yang memiliki gradasi warna mulai dari biru safir, hijau zamrud, hingga merah delima dalam satu tongkol yang sama.
"Varietas ini diciptakan pada tahun 1980-an oleh Carl Leon Barnes, ketika ia membuat campuran jagung popcorn Pawnee mini, jagung merah Osage, dan jagung abu-abu Osage," ungkap seorang peneliti agrikultur yang mendokumentasikan warisan benih Barnes. Keindahan Glass Gem pun sempat menjadi sensasi global di media sosial beberapa tahun lalu, yang kemudian memicu gerakan pelestarian benih tradisional di berbagai belahan dunia.
Meskipun memiliki tampilan yang memukau, jagung Glass Gem bukan jenis jagung manis yang biasa dikonsumsi langsung dari tongkolnya. Karena tekstur bulirnya yang keras (masuk dalam kategori jagung flint atau jagung mutiara), varietas ini lebih cocok diolah menjadi tepung jagung, dijadikan popcorn, atau sekadar menjadi dekorasi artistik yang mempesona. Hingga kini, jagung Glass Gem tetap menjadi simbol hidup dari keanekaragaman hayati dan bukti bahwa ketekunan seorang petani mampu menciptakan seni yang tumbuh dari dalam tanah. (*)
Editor : Indra Zakaria