LONDON — Selama lebih dari satu milenium, kemegahan piramida dan kuil-kuil di sepanjang Sungai Nil hanyalah monumen bisu yang dipenuhi simbol misterius. Namun, sebuah penemuan tak sengaja pada Juli 1799 oleh Pierre-Francois Bouchard, seorang perwira Prancis dalam ekspedisi Napoleon, mengubah segalanya. Sebuah lempengan granodiorit yang kini dikenal sebagai Batu Rosetta menjadi kunci tunggal yang menghidupkan kembali suara peradaban Mesir Kuno yang telah hilang selama 1.400 tahun.
Batu yang berasal dari tahun 196 SM ini bukanlah sekadar artefak biasa. Ia memuat dekrit penghormatan untuk Firaun muda Ptolemy V yang ditulis dalam tiga jenis aksara berbeda: hieroglif Mesir kuno di bagian atas, aksara Demotik di tengah, dan Yunani kuno di bagian bawah. Karena bahasa Yunani dikenal luas oleh para sarjana Eropa, teks tersebut menjadi gerbang awal bagi upaya penguraian bahasa Mesir yang selama berabad-abad dianggap murni simbolis.
Perjalanan mengungkap rahasia hieroglif merupakan kompetisi intelektual yang sengit. Dimulai dari identifikasi nama-nama diri oleh sarjana seperti Johan David Åkerblad dan Antoine-Isaac Silvestre de Sacy pada teks Demotik, hingga kemajuan penting Thomas Young pada tahun 1814 yang berhasil mengeja nama "Ptolemaios". Young mematahkan keyakinan lama bahwa hieroglif tidak memiliki sifat alfabetis, sebuah temuan yang kemudian disempurnakan secara jenius oleh Jean-Francois Champollion.
Pada tahun 1822, Champollion berhasil mengidentifikasi nama "Kleopatra" melalui obelisk Philae dan menyusun alfabet fonetik hieroglif yang lengkap. "Penguraian ini tidak hanya mengungkap satu prasasti, tetapi membuka catatan tertulis seluruh peradaban yang telah bungkam selama lebih dari satu milenium," ungkap seorang pakar sejarah mengenai dampak temuan Champollion.
Keberhasilan ini secara fundamental mengubah studi tentang Mesir kuno. Kuil dan makam yang tadinya hanya bisa dipandang sebagai seni visual, kini bisa dibaca sebagai teks keagamaan, catatan administrasi, dan literatur yang membentang ribuan tahun. Mesir berubah dari peradaban yang "bisu" menjadi salah satu budaya paling terdokumentasi dalam sejarah manusia.
Hingga saat ini, Batu Rosetta tetap menjadi objek paling populer di British Museum sejak pertama kali dipamerkan pada tahun 1802. Namun, keberadaannya di London terus memicu perdebatan diplomatik. Mesir telah berulang kali meminta pengembalian batu tersebut, dengan alasan bahwa artefak itu adalah bagian inti dari identitas budaya mereka. Terlepas dari sengketa kepemilikannya, istilah "Batu Rosetta" kini telah abadi dalam bahasa sehari-hari sebagai metafora universal untuk kunci dasar apa pun yang mampu membuka sistem pengetahuan yang besar.(*)
Editor : Indra Zakaria