Kematian raja Skotlandia Robert the Bruce (memerintah dari tahun 1306 hingga kematiannya pada 1329) meninggalkan sebuah legenda yang jauh lebih besar daripada sekadar takhta yang ia wariskan. Meskipun selama berabad-abad penyakit kusta dituding sebagai penyebab kematiannya, para sejarawan modern masih meragukan diagnosa tersebut. Namun, satu hal yang pasti dalam catatan sejarah: sesuai tradisi agung raja-raja abad pertengahan, tubuh Bruce dibedah segera setelah ia mengembuskan napas terakhir.
Isi perutnya dikeluarkan untuk mencegah pembusukan selama pengangkutan, namun bagian yang paling istimewa adalah jantungnya. Bruce memiliki satu permintaan terakhir yang sangat spesifik—ia ingin jantungnya dibawa dalam Perang Salib ke Tanah Suci untuk dipersembahkan di Gereja Makam Suci, Yerusalem. Tugas suci ini jatuh ke tangan sahabat setianya, Sir James Douglas.
Pertempuran di Spanyol dan Sumpah yang Tak Terpenuhi
James Douglas berangkat dengan membawa jantung sang raja di dalam sebuah peti perak. Namun, perjalanan menuju Yerusalem terhenti di Spanyol ketika mereka bergabung dengan Raja Alfonso XI dari Kastilia untuk melawan tentara Moor di Teba. Dalam kepungan pertempuran yang sengit, Douglas dikabarkan melemparkan peti perak berisi jantung Bruce ke tengah musuh sambil berseru, "Pergilah duluan, seperti biasa," sebelum akhirnya ia sendiri gugur di medan laga.
Jantung sang raja tidak pernah sampai ke Yerusalem. Jenazah Douglas dan peti jantung tersebut ditemukan, lalu dibawa kembali ke tanah air mereka, Skotlandia. Tubuh Bruce dimakamkan di Biara Dunfermline, sementara jantungnya mendapat tempat peristirahatan terpisah di Biara Melrose.
Penemuan Kembali di Balik Reruntuhan
Berabad-abad kemudian, jejak makam sang raja sempat memudar akibat kehancuran Biara Dunfermline selama masa Reformasi Skotlandia. Baru pada tahun 1818, para pekerja bangunan menemukan sebuah makam di dekat altar utama. Di dalamnya terdapat kerangka yang dibungkus timah dengan tulang dada yang telah digergaji—sebuah bukti fisik yang sinkron dengan catatan sejarah mengenai pengangkatan organ jantung sang raja.
Jantung Bruce pun memiliki "kehidupan" tersendiri setelah kematian. Pada tahun 1920, sebuah wadah timah kecil ditemukan di Biara Melrose, namun kembali dikuburkan tanpa upacara besar. Pencarian mencapai puncaknya pada tahun 1996, ketika penggalian kembali menemukan peti mati timah yang diyakini kuat berisi jantung sang pembebas Skotlandia. Meskipun pengujian ilmiah tidak bisa memberikan kepastian mutlak secara genetis, konteks lokasi dan sejarah membuat identifikasi tersebut diterima luas oleh para ahli.
Pada tahun 1998, potongan jaringan yang diyakini sebagai jantung Robert the Bruce tersebut akhirnya dimakamkan kembali di Biara Melrose melalui sebuah upacara kenegaraan yang khidmat. Terlepas dari keaslian biologisnya, simbolisme jantung ini tetap melekat kuat dalam identitas Skotlandia. Bruce yang berjuang demi kemerdekaan negaranya seolah terus "hidup" melalui jantungnya yang dibawa, hilang, ditemukan kembali, dan akhirnya dihormati sebagai peninggalan nasional yang abadi. (*)
Editor : Indra Zakaria