Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Sisi Gelap Keadilan: Kisah Sang Algojo, Pelayan Hukum yang Terbuang Namun Dibutuhkan

Indra Zakaria • 2026-03-09 11:40:00

Lukisan algojo yang melaksakan tugasnya. (British Library MS Royal 20 C VII fol. 134v)
Lukisan algojo yang melaksakan tugasnya. (British Library MS Royal 20 C VII fol. 134v)

 

PROKAL.CO– Di balik kemegahan katedral dan riuhnya pasar abad pertengahan, terselip sebuah profesi yang kehadirannya sangat vital namun keberadaannya dianggap najis. Algojo, sang penegak hukum terakhir, hidup dalam paradoks yang aneh: ia adalah tangan kanan keadilan yang justru dikucilkan oleh masyarakat yang dilayaninya.

Alih-alih menetap di tengah kota, para algojo biasanya menempati rumah-rumah kecil di luar tembok kota atau di dekat lapangan gantungan. Bagi warga kota, mereka adalah sosok yang ditandai dengan campuran antara otoritas hukum dan aib sosial yang mendalam.

Ritual Publik dan Stigma Sosial

Setiap kali lonceng kota berdentang, kerumunan akan berkumpul di alun-alun untuk menyaksikan "teater keadilan". Di sanalah algojo melangkah maju untuk melaksanakan tugasnya, mulai dari hukuman cambuk, pemecahan tulang di atas roda, hingga hukuman mati. Otoritas pada masa itu percaya bahwa kekejaman yang dipamerkan di depan publik akan menanamkan rasa takut dan kepatuhan pada hukum.

Namun, pengabdian ini harus dibayar mahal dengan pengucilan. Di sebagian besar Eropa, algojo dilarang bergabung dengan serikat pekerja, berbagi meja di kedai, bahkan dilarang berjabat tangan dengan warga biasa. Stigma ini begitu kuat sehingga profesi algojo sering kali menjadi turun-temurun—bukan karena warisan kehormatan, melainkan karena tidak ada orang luar yang mau memikul noda sosial tersebut.

Penyembuh di Balik Bayang-Bayang

Menariknya, di balik tugas mereka yang berdarah, para algojo memiliki pengetahuan anatomi yang luar biasa. Secara ironis, masyarakat yang menjauhi mereka sering kali datang secara diam-diam untuk mencari pertolongan medis. Banyak algojo yang merangkap sebagai ahli bedah tulang atau ahli pengobatan herbal.

Salah satu kisah yang paling terdokumentasi dengan baik adalah tentang Franz Schmidt, algojo asal Nuremberg pada abad ke-16. Dalam catatan hariannya, Schmidt mengungkap sisi lain hidupnya; selain mengeksekusi ratusan orang, ia juga mengobati ribuan pasien. Menjelang akhir hayatnya, dedikasinya yang setia pada hukum membuahkan hasil luar biasa: otoritas kota mengabulkan petisinya untuk memulihkan kehormatan keluarganya.

Seiring berjalannya waktu, eksekusi publik mulai menghilang dari tanah Eropa pada abad ke-19, berpindah ke balik tembok penjara yang tertutup. Di Prancis, jabatan ini bertahan hingga era modern dengan bantuan mesin guillotine yang dingin.

Tanda berakhirnya profesi kuno ini terjadi pada tahun 1977, ketika Marcel Chevalier memimpin eksekusi Hamida Djandoubi di Marseille—penggunaan guillotine terakhir dalam sejarah Prancis. Empat tahun kemudian, dengan dihapuskannya hukuman mati di negara tersebut, jabatan algojo pun resmi menghilang.

Selama hampir seribu tahun, algojo berdiri di perbatasan peradaban yang penuh gejolak. Mereka adalah pengingat bahwa hukum sering kali membutuhkan tangan yang bersedia menjadi kotor agar tatanan masyarakat tetap terjaga. Kini, mereka menghilang dari panggung dunia, meninggalkan jejak sejarah tentang bagaimana manusia memandang keadilan, rasa syukur, dan pengampunan. (*)

Editor : Indra Zakaria