PROKAL.CO-Minyak zaitun bukan sekadar bahan pelengkap di dapur modern. Selama ribuan tahun, ia telah menjadi inti dari denyut nadi budaya Mediterania, merajut sejarah yang menghubungkan bangsa-bangsa besar mulai dari Palestina kuno, Mesir, hingga Spanyol. Disebut sebagai "emas cair" oleh penyair Homer dan dianggap sebagai "Elixir Para Dewa", minyak zaitun membawa narasi panjang tentang ketahanan, kesehatan, dan kejayaan peradaban manusia.
Akar sejarah pohon zaitun terbentang lebih dari 6.000 tahun yang lalu di kawasan Mediterania Timur. Fosil-fosil purba yang ditemukan di Italia, Spanyol, hingga Afrika Utara membuktikan bahwa keberadaan pohon ini telah menyatu dengan bentang alam purba sebelum akhirnya mulai dibudidayakan secara sistematis di Suriah dan Palestina. Dari sana, tanaman yang dikenal sangat tangguh ini melintasi lautan menuju Siprus, Kreta, hingga menyentuh daratan Mesir.
Bagi bangsa Yunani kuno, zaitun adalah subjek mitologi yang suci. Rantingnya menjadi simbol perdamaian dunia, sementara minyaknya sangat dihargai karena khasiat penyembuhannya yang luar biasa untuk kosmetik hingga farmasi. Jejak budidaya zaitun di Mediterania Timur bahkan tercatat rapi dalam arsip negara kota kuno Ebla di pinggiran Aleppo, Suriah, sekitar tahun 2600–2240 SM.
Perjalanan zaitun menuju barat dipelopori oleh bangsa Fenisia yang membawanya ke kepulauan Yunani pada abad ke-16 SM, sebelum akhirnya bangsa Romawi memperluas produksinya secara besar-besaran di seluruh kekaisaran. Di bawah kekuasaan Romawi, minyak zaitun dari Hispania (sekarang Spanyol) mendapatkan reputasi sebagai kualitas terbaik di dunia.
Menariknya, pengaruh besar bangsa Arab di semenanjung Iberia turut meninggalkan jejak linguistik yang dalam. Kata Spanyol untuk minyak, aceite, serta kata untuk zaitun, aceituna, berakar dari bahasa Arab al-zat yang berarti sari zaitun. Teknik produksi yang dibawa bangsa Arab semakin menyempurnakan kualitas minyak nabati tertua di dunia ini.
Seiring penemuan Benua Amerika pada tahun 1492, zaitun mulai melintasi samudera. Pada tahun 1560, kebun-kebun zaitun mulai menghijau di Meksiko, Peru, Chili, hingga Argentina. Transformasi industri pun terjadi pada tahun 1864 dengan penemuan teknologi sentrifugasi yang awalnya digunakan untuk pengolahan susu, namun kemudian merevolusi cara manusia mengekstrak sari buah zaitun.
Hingga saat ini, sekitar 95 persen pasokan minyak zaitun dunia masih berasal dari kawasan Mediterania, dengan Spanyol berdiri sebagai produsen utama, diikuti oleh Italia dan Yunani. Layaknya anggur berkualitas, profil rasa minyak zaitun sangat dipengaruhi oleh wilayah tanam, tingkat kematangan buah, dan varietas tanamannya.
Pohon zaitun sendiri adalah simbol ketahanan yang nyata. Ia mampu tumbuh di medan yang sulit, tahan terhadap kekeringan, bahkan mampu bertahan dari amukan api. Ketangguhan inilah yang membuatnya mampu melampaui batas waktu, dari hutan lebat Asia Kecil ribuan tahun lalu hingga menjadi primadona diet sehat masyarakat global di bawah naungan Dewan Zaitun Internasional yang didirikan PBB sejak 1959. Minyak zaitun bukan hanya komoditas; ia adalah warisan peradaban yang terus mengalir melintasi zaman. (*)
Editor : Indra Zakaria