Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Rahang Habsburg: Bukti Kelam Pernikahan Sedarah Raja

Indra Zakaria • 2026-03-15 08:15:00

Charles II dari Spanyol dengan rahang menonjol yang berasal dari perkawinan sedarah dalam keluarga. (Wikimedia Commons)
Charles II dari Spanyol dengan rahang menonjol yang berasal dari perkawinan sedarah dalam keluarga. (Wikimedia Commons)

PROKAL.CO— Selama berabad-abad, keluarga kerajaan di Eropa terobsesi untuk mempertahankan kekuasaan dan kemurnian garis keturunan mereka melalui aliansi pernikahan antar-kerabat. Namun, tanpa disadari, praktik yang bertujuan memperkuat takhta ini justru melahirkan salah satu cacat fisik paling ikonik dalam sejarah yang dikenal sebagai Rahang Habsburg. Kondisi yang secara medis disebut prognatisme mandibula ini menjadi saksi bisu betapa berbahayanya perkawinan sedarah (inbreeding) terhadap kesehatan genetik manusia.

Masalah utama dari perkawinan sedarah terletak pada meningkatnya peluang homozigositas, di mana ketika dua kerabat dekat memiliki keturunan, risiko munculnya sifat resesif berbahaya meningkat drastis. Hal ini memicu berbagai disabilitas fisik dan kognitif, mulai dari penyakit seperti hemofilia dan fibrosis kistik, hingga kelainan bentuk tulang wajah yang ekstrem. Meskipun saat ini kita memiliki teknologi pengujian genetik, berabad-abad lalu pernikahan antar sepupu atau bahkan saudara kandung dianggap sebagai praktik wajar demi mengamankan aliansi politik serta harta kekayaan.

Kutukan Wangsa Habsburg ini ditandai dengan rahang bawah yang menonjol secara berlebihan, bibir bawah yang tebal, dan terkadang ukuran lidah yang sangat besar. Ciri fisik ini diduga berasal dari keluarga kerajaan Polandia dan pertama kali terlihat jelas pada Maximilian I, Kaisar Romawi Suci yang memerintah pada akhir abad ke-15. Karena keluarga bangsawan ini terus menikah di lingkungan mereka sendiri guna mempersempit garis keturunan, kelainan rahang tersebut akhirnya muncul di hampir seluruh penguasa Eropa Abad Pertengahan hingga nama "Wangsa Habsburg" melekat permanen pada kondisi ini.

Tragedi paling nyata dari praktik ini mencapai puncaknya pada sosok Charles II, penguasa Habsburg Spanyol terakhir yang memiliki silsilah sangat kacau. Nenek moyangnya, Joanna dari Castile, muncul hingga empat belas kali dalam pohon keluarganya akibat pernikahan antar sepupu yang berulang kali terjadi. Kondisi fisik dan mental Charles II sangat memprihatinkan, di mana rahangnya begitu menonjol sehingga ia tidak bisa mengunyah makanan dengan benar, sementara lidahnya yang besar membuatnya terus mengeluarkan air liur dan sulit untuk berbicara.

Selain gangguan fisik, Charles II juga mengalami keterlambatan perkembangan yang parah, di mana ia baru bisa berbicara di usia empat tahun dan baru bisa berjalan saat berusia delapan tahun. Ketidakmampuannya memberikan pewaris takhta karena mandul akhirnya memicu Perang Suksesi Spanyol selama tiga belas tahun setelah kematiannya. Meskipun era Habsburg telah lama berakhir, jejak genetiknya masih bisa ditemukan pada keturunan jauh mereka, seperti mantan penguasa Spanyol, Raja Juan Carlos I, yang masih menunjukkan tanda-tanda rahang Habsburg meski dalam tingkat yang sangat ringan. Kisah ini menjadi pelajaran berharga bahwa apa yang dulunya dianggap sebagai simbol kemurnian darah biru ternyata merupakan bukti nyata kerusakan biologis akibat pengabaian hukum alam demi ambisi kekuasaan. (*)

Editor : Indra Zakaria