KONSTANTINOPEL – Dalam lembaran sejarah Kekaisaran Bizantium, tidak ada kisah yang lebih dramatis dan ganjil daripada perjalanan hidup Justinian II. Naik takhta pertama kali pada tahun 685, masa awal pemerintahannya justru diwarnai dengan ketegangan besar. Kebijakan pajak yang mencekik serta penerapan hukuman yang sangat keras membuat Justinian dengan cepat dimusuhi oleh kalangan elit politik dan pihak militer.
Puncak kebencian tersebut meledak dalam pemberontakan besar di Konstantinopel pada tahun 695. Justinian digulingkan secara paksa, namun alih-alih dieksekusi, ia dijatuhi hukuman mutilasi sesuai tradisi Bizantium: hidungnya dipotong. Tindakan kejam ini dilakukan dengan keyakinan bahwa cacat fisik secara otomatis mendiskualifikasi seseorang untuk memimpin kekaisaran. Setelah wajahnya dirusak, ia diasingkan jauh dari pusat kekuasaan, dianggap telah "mati" secara politik oleh para musuhnya.
Namun, sejarah mencatat bahwa Justinian menolak untuk menyerah pada nasib. Alih-alih menghilang dalam pengasingan, ia menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk menyusun rencana kembali ke tampuk kekuasaan. Ia berhasil melarikan diri dan menjalin aliansi strategis dengan bangsa-bangsa tetangga, mulai dari bangsa Khazar hingga Bulgaria, demi membangun kembali kekuatan militernya.
Satu detail yang paling ikonik dalam masa pengasingannya adalah upayanya menutupi kerusakan wajah. Justinian dilaporkan mengenakan hidung buatan yang terbuat dari emas murni, sebuah simbol kemewahan sekaligus keteguhan hati yang membuatnya dijuluki "Rhinotmetos" atau "Si Hidung Sobek".
Pada tahun 705, kejutan besar terjadi. Justinian kembali ke gerbang Konstantinopel dengan membawa pasukan besar. Ia berhasil merebut kembali takhta kekaisaran dan mendobrak tradisi kuno yang menyatakan pria cacat tidak layak memerintah. Masa pemerintahan keduanya pun dikenal sangat kontroversial, diwarnai dengan aksi pembalasan yang brutal terhadap mereka yang dulu mengkhianatinya. Hingga kini, kisah Justinian II tetap menjadi salah satu contoh paling ekstrem tentang ketahanan seorang penguasa yang kehilangan segalanya, namun berhasil merebut kembali mahkotanya melalui ambisi yang tak terpatahkan. (*)
Editor : Indra Zakaria