LOS ANGELES – Industri penerbangan dunia resmi mengukir sejarah baru. Pesawat berbasis baterai-listrik terbesar di dunia, X1 buatan pabrikan Heart Aerospace, sukses melakoni penerbangan perdananya di New York, Amerika Serikat. Uji coba berdurasi 27 menit pada ketinggian 1.100 kaki ini menjadi lompatan raksasa bagi masa depan teknologi penerbangan ramah lingkungan.
Memiliki bentang sayap sepanjang 32 meter dan bobot mencapai lebih dari 11 ton—setara dengan bus sekolah kosong—pesawat berkapasitas 30 penumpang ini berhasil terbang murni mengandalkan daya baterai. Pencapaian ini menjadi batu loncatan bagi Heart Aerospace untuk merilis pesawat hibrida-listrik komersial, ES-30, yang ditargetkan beroperasi pada 2031.
"Dengan penerbangan pertama X1, Heart Aerospace telah membuktikan bahwa penerbangan listrik dalam skala pesawat komersial bukanlah hal yang mustahil," ungkap Pendiri sekaligus CEO Heart Aerospace, Anders Forslund.
Inovasi ini disambut antusias oleh maskapai global seperti United Airlines dan Air Canada. Selain bebas emisi karbon, pesawat listrik menawarkan efisiensi operasional luar biasa. Dalam uji coba X1, pengeluaran energi murni yang digunakan bahkan hanya menghabiskan biaya sekitar $5 (sekitar Rp80 ribu).
Secara keseluruhan, kombinasi hemat bahan bakar dan minimnya biaya perawatan mesin listrik diproyeksikan mampu memangkas biaya operasional hingga 40 persen dibanding pesawat regional konvensional.
Tantangan Bobot Baterai dan Solusi Hibrida
Meski menjanjikan, penerbangan komersial yang sepenuhnya mengandalkan baterai masih menghadapi kendala teknis. Berbeda dengan bahan bakar fosil yang makin ringan saat terbakar di udara, beban baterai listrik akan tetap sama beratnya dari lepas landas hingga mendarat. Hal ini membatasi jarak tempuh murni X1 yang baru mencapai sekitar 200 kilometer.
Guna mengatasi keterbatasan tersebut, penerbangan komersial masa depan akan mengadopsi sistem hibrida. Dengan bantuan mesin pembakaran tambahan (range-extender), jarak tempuh pesawat dapat melonjak hingga 800 kilometer—jarak yang lebih dari cukup untuk melayani rute-rute antarkota regional. (*)
Editor : Indra ZakariaSumber : prokal.co