Selain kaya akan wisata alam terutama wisata baharinya, Kabupaten Berau ini juga sarat akan tradisi adat istiadat dan budaya leluhur yang masih kental terjaga.
SUMARNI, Sambaliung
SALAH satu adat yang hingga kini masih dipertahankan yakni upacara adat yang digelar oleh suku Dayak. Di antaranya melalui Musyawarah Besar (Mubes) Kung Kemul, yang biasa dilaksanakan setiap 5 tahun sekali oleh suku Dayak Serumpun.
Tahun ini menjadi perayaan kelima, Berau pun kembali berkesempatan menjadi tuan rumah. Pada Mubes Kung Kemul ke-V kali ini, akan berlangsung mulai 18 Juli 2023, di Kampung Long Lanuk, Kecamatan Sambaliung.
Saat dijumpai langsung oleh awak media ini, Ketua Adat Kampung Long Lanuk, Lung Yea Budeng, menjelaskan, Kung Kemul bukan berasal dari kata yang merujuk kepada sebuah suku tertentu, tapi merupakan tempat dimana suku-suku ini berasal. Kung Kemul merupakan sebuah gunung, dimana terdapat komunitas adat di wilayah itu.
"Kumpulan Dayak Ga'ai ini, cari sejarah masing-masing. Karena sejarah kami sudah berbeda-beda kan. Jadi itulah yang mau disatukan, supaya rumpun kami itu bersatu juga seperti semula," ujar Ketua Adat Kampung Long Lanuk ini.
Dimasa lalu terjadi sebuah pertempuran di wilayah ini. Berdasarkan bukti sejarah dan barang-barang situsnya, memang membuktikan asal-muasal komunitas Dayak Rumpun Kung Kemul. Semua suku yang berasal dari wilayah Kung Kemul adalah Rumpun Kung Kemul.
"Pada waktu dulu kami itu sering bertengkar, bermusuhan, dan juga sering perang antarsuku dayak. Sejak turun Undang-Undang 1945, itu makanya sudah rukun, damai. Nah jadi sekarang kami mau cari Dayak Ga'ai ini dimana dia berada, kita bersatukan, dikumpulkan," ungkapnya.
Pengertian dari nama 'Kung Kemul' itu sendiri dijelaskan Seksi Kesejahteraan Kampung Long Lanuk, Juk Jau, Kung artinya gunung, sedangkan Kemul adalah nama dari salah satu gunung tertinggi di Kalimantan Timur, dengan ketinggian sekitar 1.847 meter (6.060 kaki), dan titik koordinat 1 51’37”N 116 10’35”E. Letaknya, di penghujung Sungai Kayan yang berbatasan dengan Sungai Boh. "Itulah pengertian dari 'Kung Kemul'," kata Juk Jau.
Alasan menggunakan nama gunung 'Kung Kemul' sebagai nama persatuan organisasi ini adalah, secara historis di gunung Kung Kemul merupakan tempat asal muasal berkumpulnya dayak serumpun. Karena alasan susahnya menjalani hidup di gunung Kung Kemul, maka sepakatlah dayak serumpun ini untuk pindah dari Gunung Kung Kemul ke tempat lain, guna mencari tempat permukiman yang lebih baik.
"Penyebaran dayak serumpun ini berpindah secara berkelompok. Mereka meninggalkan Gunung Kung Kemul untuk mencari tempat permukiman yang lebih baik," ungkapnya.
Disebutkan Juk Jau, penyebarannya ada kelompok yang turun ke Kutai Timur, Kutai Barat, dan Kutai Kartanegara. Turun melalui Sungai Wehea (Wahau), Sungai Telaen (nama asli dari Sungai Telen), Sungai Menwea (nama asli dari Sungai Kelinjau). Ada juga sebagian yang turun melalui Sungai Tabang dan tembus di Hulu Sungai Mahakam (Kabupaten Mahakam Ulu).
Sedangkan kelompok yang turun ke Bulungan, melalui Sungai Kejin (nama asli dari Sungai Segah), dan Sungai Kelay hingga sampai ke pesisir pantai (Kabupaten Berau). "Itulah penyebaran dayak serumpun yang tersebar di 6 kabupaten, di antaranya Kabupaten Kutai Timur, Kubar, Kukar, Mahakam Ulu, Berau, dan Bulungan," jelasnya.
Menjadi bagian dari sejarah dan menetap sebagai tradisi adat yang dipertahankan, Berau sebagai tuan rumah tentu telah mempersiapkan penyelenggaraan Mubes Kung Kemul ke-V ini dengan sangat matang. Bahkan sudah sejak Januari lalu. Bukan waktu yang singkat memang, tetapi itu adalah bentuk komitmen agar dapat memberi kesan tersendiri bagi ratusan tamu dan para warga suku dayak serumpun yang akan terlibat dalam Kung Kemul itu nantinya.
Adapun tema yang diusung oleh panitia pelaksana yakni “Eksistensi Rumpun Kung Kemul dalam Memperkuat Persekutuan serta Mempertahankan Warisan Budaya dan Adat Istiadat”.
Dan "Melalui musyawarah besar Kung Kemul ke-V, kita menguatkan simpul kekerabatan persekutuan dalam mewujudkan generasi yang berkelanjutan untuk menghadapi IKN” pun menjadi sub tema pada Mubes Kung Kemul kali ini.
Pada Mubes Kung Kemul ini nantinya, akan dirangkai dengan berbagai perlombaan untuk setiap kontingen yang hadir, mulai dari lomba permainan, kesenian, hingga olahraga tradisional seperti begasing, menyumpit, belogo, hingga tarik tambang dengan menggunakan rotan.
Pentas seni juga ditampilkan setiap hari pada mubes kali ini, setiap kontingen mengirimkan wakil kesenian dari daerah dan komunitas adat mereka masing-masing yang tampil pada malam pentas seni di sepanjang mubes berlangsung.
Dari pentas seni ini nantinya, juga bisa terlihat keragaman corak budaya komunitas adat pada Kung Kemul, mulai dari suku Dayak Modang, Dayak Ga’ai, Dayak Punan (Basap), Dayak Lebo, Dayak Wehea, dan dayak lainnya yang masuk dalam persekutuan dayak Kung Kemul ini.
Selain pesta seni, budaya dan olahraga juga akan dilakukan kegiatan utama pada mubes tersebut, yaitu membahas AD/ART Lembaga Kung Kemul, serta membahas hal-hal yang dianggap perlu seperti ritual maupun budaya adat istiadat yang berkembang dari masing-masing suku.
Melalui mubes ini juga, diharapkan ke depan Kung Kemul cabang Berau bisa berkontribusi nyata dalam mewujudkan pembangunan daerah, khususnya dalam bidang seni dan budaya. Mengingat saat ini pemerintah daerah sedang gencar-gencarnya memajukan sektor pariwisata.
"Dengan adanya kontribusi seni dan budaya ini, tentu bakal menjadi daya tarik bagi wisatawan, apalagi persiapan menyambut IKN," tuturnya.
Dari Mubes Kung Kemul ini juga, harapannya agar seluruh anggota semakin memperkuat persatuan dan kesatuan, dan juga mengedepankan hubungan antarsesama etnis yang cukup beragam di Kabupaten Berau. "Itu harapan utama kita bersama," tutupnya. (mar/adv)
Editor : uki-Berau Post