SAMARINDA- Kebijakan fiskal pemerintah dalam pembentukan produk domestik regional bruto (PDRB) dinilai belum berjalan maksimal sepanjang triwulan I 2021. Sebab, laju pertumbuhan ekonomi Kaltim masih tertahan di level minus 2,96 persen, bahkan menurun dari triwulan sebelumnya sebesar 0,61 persen.
Kepala Kantor Perwakilan Direktorat Jenderal Perbendaharaan (Kanwil DJPb) Kaltim Muhdi mengatakan, kebijakan fiskal dalam bentuk APBN dan APBD yang dijalankan oleh pemerintah pusat maupun daerah sampai triwulan I 2021 belum memberikan pengaruh yang signifikan terhadap pembentukan PDRB. “Namun belanja pemerintah berperan menggerakkan sektor riil,” ungkapnya, Kamis (24/6).
Dia menjelaskan, pengeluaran konsumsi rumah tangga menurut atas dasar harga berlaku (ADHB) di triwulan I 2021 sebesar Rp 28,244 triliun, mengalami kenaikan jika dibandingkan triwulan I 2020 sebesar Rp 28,056 triliun. Hal ini mengindikasikan bahwa konsumsi atau daya beli masyarakat tetap dapat dipertahankan di masa pandemi Covid-19 ini.
Sehingga belanja pemerintah juga turut memberikan kontribusi pada komponen pembentukan modal tetap bruto (PMTB), dan komponen konsumsi pemerintah dalam struktur PDRB di sisi pengeluaran, masing-masing sebesar 32,28 persen dan 2,72 persen. “Memang persentase konsumsi pemerintah yang relatif kecil dikarenakan pembentuk utama dari PDRB Kaltim adalah komponen ekspor,” tuturnya.
Akan tetapi konsumsi pemerintah tersebut difokuskan untuk sektor riil, yang akan memengaruhi pengeluaran rumah tangga. Kebijakan fiskal dalam pengertian luas, yang termasuk kemudahan investasi, pemberian berbagai jenis insentif perpajakan, pengurangan atau pembebasan bea masuk dan atau bea keluar, berperan terhadap pertumbuhan komponen net ekspor (ekspor-impor) sebesar 60,92 persen.
“Di sisi lain, pemerintah harus lebih serius mendorong transformasi struktur perekonomian Kaltim. Sehingga tidak hanya bergantung pada sektor pertambangan dan penggalian untuk menjamin sustainable development,” katanya.
Terdapat tiga sektor potensial di Kaltim selain pertambangan dan penggalian. Yaitu sektor konstruksi, sektor industri pengolahan, serta sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan. Ketiga sektor tersebut menyumbang sebesar 36,63 persen dari total PDRB Kaltim. Selain itu, ketiga sektor tersebut juga sejalan dengan instruksi Gubernur Kaltim, untuk tidak lagi bergantung pada non-renewable resources dan mulai mengembangkan perekonomian yang bersumber dari renewable resources. (ctr/ndu/k15)
Editor : izak-Indra Zakaria