Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Banyak Tantangan, Ekonomi Tetap Lanjutkan Perbaikan

izak-Indra Zakaria • 2022-06-03 12:29:02
Ricky P Gozali
Ricky P Gozali

Perekonomian Kaltim pada awal tahun ini hanya tumbuh 1,85 persen (year on year/yoy). Meski banyak tantangan pada triwulan pertama dan kedua, namun ekonomi 2022 diprakirakan tetap melanjutkan pemulihan dan tumbuh pada rentang 2,95-3,75 persen (yoy).

SAMARINDA - Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw-BI) Kaltim Ricky P Gozali mengatakan, perekonomian Kaltim masih berada di jalur positif dan melanjutkan perbaikan. Meski pada Januari 2022 ada larangan ekspor batu bara yang sempat membuat kinerja ekonomi sedikit terhambat. Namun, tidak membawa ekonomi Kaltim pada triwulan pertama menjadi tumbuh negatif.

Begitu juga larangan ekspor crude palm oil (CPO) beserta turunannya pada April-Mei lalu tidak akan berpengaruh besar terhadap pertumbuhan ekonomi triwulan kedua. “Ekonomi Kaltim masih positif dan melanjutkan perbaikan,” tegasnya, Rabu (1/6).

Pelarangan ekspor CPO tidak seperti batu bara. Larangan ekspor batu bara berpengaruh besar terhadap ekonomi Kaltim. Seperti diketahui bersama, saat ini perekonomian Kaltim masih sangat bergantung dengan sektor pertambangan batu bara dengan pangsa rata-rata sebesar 45,03 persen selama lima tahun terakhir. Berbeda dengan ekspor CPO yang tidak begitu mendominasi.

Sehingga, pihaknya optimistis tahun ini ekonomi masih akan terus melanjutkan perbaikan. Setelah mulai pulih pada 2021 dengan mencatat pertumbuhan positif 2,48 persen. “Proses pemulihan ekonomi Kaltim pada tahun ini masih ditopang oleh prakiraan harga komoditas utama yang masih relatif tinggi, meski sebagiannya sedikit terkoreksi,” tuturnya.

Harga batu bara global pada 2022 diprediksi sedikit menurun sekitar 14,3 persen, namun masih berada dalam level tertinggi dalam kurun lima tahun terakhir. Hal yang sama juga terjadi pada kelapa sawit (CPO) yang diperkirakan menurun 2,3 persen. Meskipun harga batu bara masih tinggi, namun kinerjanya diyakini tetap tumbuh relatif terbatas.

Menurutnya, itu terjadi seiring dengan prakiraan permintaan negara tujuan utama dan harga komoditas yang secara berangsur melandai. Banyak negara termasuk Tiongkok (sebagai pasar terbesar batu bara Kaltim) kembali menguatkan komitmen untuk membatasi penggunaan batu bara dan segera beralih ke sumber energi baru terbarukan (EBT).

Hal tersebut secara langsung masih berpotensi membuat permintaan batu bara Kaltim tidak setinggi tahun sebelumnya terlebih proyeksi harga yang diprakirakan melandai, bahkan menurun pada 2022. “Meskipun banyak tantangan, ekonomi diprediksikan akan terus melanjutkan perbaikan pada tahun ini,” kaya Gozali.

Terpisah, Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kaltim Made Yoga Sudharma mengatakan, intermediasi sektor keuangan saat ini di Kaltim masih stabil dan cenderung meningkat. Peningkatan ini semakin berkontribusi terhadap berlanjutnya pemulihan ekonomi di tengah meningkatnya ketidakpastian global.

Pada triwulan pertama, kredit Kaltim mencapai Rp 142 triliun, tumbuh 18,87 persen. Sama seperti kredit, dana pihak ketiga (DPK) mencapai Rp 115 triliun berhasil tumbuh 12,08 persen. “Hal tersebut mengindikasikan stabilitas sistem keuangan di Kaltim relatif membaik yang tecermin dari membaiknya aliran kredit, maupun pertumbuhan DPK,” jelasnya.

Pihaknya berharap kredit Kaltim akan terus mengarah pada sektor produktif, sehingga terus terjadi pertumbuhan kredit. Semakin banyak sektor produktif yang dibiayai, maka risikonya akan semakin kecil. Apalagi jika yang dibiayai merupakan sektor-sektor baru, sehingga share dari kredit produktif semakin besar.

Selain mendorong nilai pembiayaan, perbankan juga harus menjaga kualitas kreditnya. Saat ini, dari sisi kualitasnya, risiko kredit sudah berada di bawah threshold 5 persen. Rasio non-performing loan (NPL) kredit terpantau mencapai 3,32 persen.

“Saat ini ekonomi Kaltim sudah jauh lebih baik dibandingkan saat awal pandemi. Hal ini harus disambut baik oleh industri jasa keuangan, lewat penyaluran dana. Sehingga, ekonomi bisa bergerak dengan modal kerja, dan kredit investasi yang bertambah,” tuturnya.

Peningkatan kinerja intermediasi tersebut terjadi di tengah perekonomian global yang masih menghadapi tekanan inflasi yang persisten tinggi dan telah mendorong pengetatan kebijakan moneter yang lebih agresif oleh mayoritas bank sentral dunia. Konflik Rusia-Ukraina serta terganggunya global supply chain akibat lockdown di Tiongkok terus mendorong kenaikan harga komoditas terutama energi dan pangan.

Kenaikan inflasi yang diikuti oleh pengetatan kebijakan moneter global telah meningkatkan potensi terjadinya hard landing, sehingga meningkatkan volatilitas di pasar keuangan global dan terjadinya outflow dari pasar keuangan emerging markets.

Perbaikan kinerja industri jasa keuangan berpengaruh dalam pemulihan ekonomi lebih cepat. Apalagi saat ini permodalan lembaga jasa keuangan terjaga pada level yang memadai. Capital adequacy ratio perbankan tercatat sebesar 24,32 persen.

Ke depan, OJK akan terus memperkuat koordinasi dengan para stakeholder dalam rangka menjaga stabilitas sistem keuangan khususnya dalam mengantisipasi risiko tekanan inflasi global dan pengetatan kebijakan bank sentral dunia. “Perbaikan kinerja industri jasa keuangan tentunya membuat perbaikan dunia usaha akan lebih cepat, sehingga ekonomi bisa bergerak lebih cepat,” pungkasnya. (ndu/k15)

Catur Maiyulinda

@caturmaiyulinda

Editor : izak-Indra Zakaria
#Ekonomi Kaltim