BALIKPAPAN–Pemkot Balikpapan tampaknya harus memberi perhatian lebih terhadap tren inflasi di wilayahnya. Sebab, pada Juli lalu sudah berada di atas target yang ditetapkan Bank Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Juli 2022 di Balikpapan sebesar 0,73 persen. Inflasi kalender (year to date) sebesar 4,59 persen dan inflasi tahun ke tahun (year on year) sebesar 5,73 persen.
“Posisi inflasi kita sudah di atas target BI, secara tahun kalender sudah 4,59 (year to date) atau seperti tahun-tahun sebelum Covid-19,” ucap Kepala BPS Balikpapan Mustaqim, Rabu (3/7). Inflasi terjadi karena adanya kenaikan harga. Yang ditunjukkan oleh naiknya delapan indeks kelompok pengeluaran, yaitu kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 0,71 persen.
Kemudian kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 0,07 persen; perumahan, air listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,62 persen; perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,19 persen; kesehatan sebesar 0,25 persen; transportasi sebesar 1,99 persen; pendidikan sebesar 2,96 persen serta perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,92 persen.
Sementara itu, kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan. Kelompok rekreasi, olahraga dan budaya serta penyediaan makanan dan minuman/restoran tidak mengalami perubahan indeks harga.
Komoditas yang memberikan andil terbesar terhadap terjadinya inflasi adalah bawang merah yang mengalami kenaikan indeks harga sebesar 53,6 persen dengan andil terhadap inflasi sebesar 0,1996 persen. Dari pengamatan di pasar tradisional, beberapa komoditas sayuran mengalami naik-turun harga. Bawang merah pada beberapa bulan lalu mencapai Rp 60 ribu per kg, sekarang Rp 45–55 ribu.
Diikuti oleh angkutan udara yang mengalami kenaikan indeks harga sebesar 8,68 persen dengan andil sebesar 0,1764 persen. Ada pula cabai rawit yang mengalami kenaikan indeks harga sebesar 13,28 persen dengan andil sebesar 0,0778 persen.
“Cabai rawit sempat jadi pembicaraan hangat karena harganya yang terus melejit hingga Rp 200 ribu, itu cukup menyita perhatian seperti halnya naiknya harga minyak goreng juga,” ucap Mustaqim.
Di pasaran sendiri, kini terdapat beberapa jenis cabai rawit yang dipasok dari Jawa, Sulawesi maupun lokal. Harga cabai lokal rata-rata masih di kisaran Rp 120 ribu, begitupun dengan dari Jawa Rp 100–120 ribu, dengan dari Sulawesi bisa mencapai Rp 135–150 ribu.
Sementara itu, komoditas yang memberikan andil terbesar terhadap terjadinya deflasi adalah daging ayam ras, yang mengalami penurunan indeks harga sebesar 5,43 persen, dengan andil terhadap inflasi sebesar -0,1128 persen.
Hasil pengamatan awak media di pasar, harga ayam potong ukuran sedang sekarang telah mengalami penurunan dari sebelumnya bisa mencapai Rp 55 ribu, kini sudah dijual dengan harga Rp 45 ribu.
Lalu kangkung yang mengalami penurunan indeks harga sebesar 10,15 persen, dengan andil sebesar -0,0292 persen. Maupun minyak goreng yang mengalami penurunan indeks harga sebesar 1,05 persen dengan andil sebesar -0,0174 persen.
Berkaca banyak negara mengalami inflasi tinggi dan terus meroket. Dia berharap, angka inflasi tidak terus menanjak. Terus dijaga. Per bulan setidaknya di bawah 1 persen atau 0,7 persen agar akhir tahun nanti inflasi tidak sampai 10 persen.
“Lima bulan ke depan perlu diantisipasi pula, terutama di akhir tahun ataupun saat perayaan tahun baru. Dan kondisi ke depan, masih terjadi kenaikan harga komoditas secara global dari itu perlunya perhatian dari pemerintah. Meski inflasi terjadi, kita harap per bulan berada di bawah 1 digit,” tutupnya. (ndu/k8)
Ulil Muawanah
yin.khazan@gmail.com
Editor : izak-Indra Zakaria