Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Masa Kejayaan Lada Kian Redup, Luas Lahan Menyusut Tajam, Harga Terjun Bebas

Indra Zakaria • Kamis, 1 Februari 2024 - 19:48 WIB
ilustrasi tanaman lada
ilustrasi tanaman lada

TANJUNG REDEB - Eksistensi komoditas lada di Kabupaten Berau tampaknya terus menurun, baik segi harga maupun luas wilayahnya. Saat ini harga lada menyentuh Rp 50–60 ribu per kilogram. 

Kepala Dinas Perkebunan Berau Lita Handini menjelaskan, petani lada di Berau semakin hari luasannya semakin menurun. Lantaran, banyak yang beralih menjadi lahan sawit. Apalagi harga jual lada yang kurang bagus membuat semangat petani menurun. 

“Dulu harga pernah jaya sampai Rp 150 ribu per kilogram. Jadi memang harganya naik turun, dan sekarang rata-rata sekitar Rp 60 ribu. Itu yang membuat semangat para petani beralih ke komoditas yang lain,” bebernya. 

Berdasarkan data Disbun Berau, total luas lahan komoditas lada di Kabupaten Berau yakni 2.237 hektare yang tersebar di 13 kecamatan. Paling banyak berada di Kecamatan Gunung Tabur, menyusul Sambaliung, Tabalar, Biatan, dan Talisayan. 

“Setelah panen pun tidak bisa langsung dijual, harus direndam dan dikupas dulu kulitnya baru dijemur. Kebersihan kebun harus dijaga karena kalau ada rumput dan lembab dan bisa busuk,” ujar Lita. 

Belum lagi, kata Lita, serangan penyakit lada sangat luar biasa daripada komoditas lain. Disebut penyakit busuk pangkal batang yang banyak menyerang tanaman lada. Jika ada satu tanaman yang terkena penyakit itu nantinya akan ke seluruh tanaman lain.

Itu yang membuat perawatan lada harus ekstra agar mendapatkan hasil yang bagus.  “Kalau sudah kena satu, bisa menyebar keseluruhan tanaman dan penanggulangannya itu susah,” katanya. 

Merawat lada harus intens karena jenisnya rentan. Apabila ada gejala, harus langsung segera ditangani. Jika ada yang terkena penyakit busuk pangkal batang, lada harus segera dicabut dan lubangnya dibersihkan dengan cara dibakar. Tidak cukup dengan ditutup saja. Sebab, jika hujan, dikhawatirkan virus akan tergenang air dan menyebar ke tumbuhan lain. 

“Kebersihan kebun juga harus dijaga. Banyak hal yang harus dilakukan petani untuk merawat lada,” ucapnya. 

Kendati demikian, pihaknya selalu memberikan bantuan bibit dan pupuk serta obat untuk memotivasi para petani. Meskipun jumlahnya tidak sebanyak dulu, pihaknya akan tetap berusaha mempertahankannya. 

“Kami dari Disbun akan selalu mendampingi para petani. Dengan memberikan bantuan bibit, pupuk hingga obat. Karena kami sadar merawat lada butuh kesabaran dan ketelitian,” jelasnya. 

Jika ada petani yang mengalami kendala dalam perawatan lada, seperti tanaman yang terkena hama, pihaknya secara terbuka akan membantu mereka. Bisa melalui aplikasi maupun chat via WhatsApp. 

“Jika petani mengalami kendala, silahkan menghubungi kami. Bisa melapor via WhatsApp juga. Nanti admin kami akan memberikan edukasi,” paparnya. 

Pihaknya akan langsung meninjau ke lapangan terkait keluhan tersebut. Tindak lanjutnya akan disesuaikan dengan masalah yang dihadapi. Yang jelas jika terkena hama, akan diberi bantuan obat-obatan hayati yang dibuat sendiri oleh Disbun. 

Lita menambahkan, kondisi komoditas lada di Kaltim juga sama. Harganya turun dan banyak yang beralih fungsi lahan. Terlebih tidak bisa ditinggal begitu saja, karena bakal mati. “Seluruh Kaltim kondisinya sama,” tutupnya. (aja/ind/k16)

Editor : Indra Zakaria
#perkebunan #bisnis