Selain batu akik, pendulangan di Pumpung, Cempaka juga tak seperti dulu. Kini para pendulang sudah jarang sekali bisa mendapatkan intan.
****
Radar Banjarmasin menyambangi salah satu lokasi pendulang intan di Pumpung, Cempaka, Selasa (25/6).
Di sana wartawan koran ini bertemu seorang pendulang bernama Safrial. Pria berusia 40 tahun itu saban hari berendam dari pukul delapan pagi hingga sore hari di dalam kubangan air berwarna coklat untuk mencari intan ataupun emas. "Mencarinya itu memakai alat berbentuk piring besar ini, namanya linggangan. Jadi pasir di dalam kubangan ini dibuat ke dalam linggangan terus digoyangkan, nanti tersaring," ujarnya.
Safrial mengaku hal itu sudah menjadi rutinitas sehari-hari sejak dirinya putus sekolah dasar di bangku kelas lima. Ia nekat menjadi pendulang, meskipun kini kondisi pendulangan sangat memprihatinkan.
"Saya ini mencari di kubangan sisa dari pendulang yang lain. Ketika lubang ini sudah digali orang untuk mencari intan, saya coba saring lagi. Kadang ada serpihan intan atau emas yang tertinggal," sebutnya.
"Ya dalam sehari paling kalau diuangkan cuma dapat Rp20 ribu. Kalau lagi apes enggak dapat apa-apa. Dapat batu akik pun kini sulit dijual," tuturnya lagi. Safrial pun mengaku terpaksa melakoni pekerjaan menjadi seorang pendulang intan, lantaran untuk mencari pekerjaan lainnya, ia kesulitan.
"Mau bagaimana lagi, tingkatan sekolah saya pun tidak sesuai syarat, keahlian saya cuma menjadi pendulang intan. Jadi bersyukur saja dengan apa yang didapat, mudahan dapat hasil yang bagus," pasrahnya.