Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Tata Niaga Berbelit dan Kualitas Menurun, Petani Rumput Laut Tarakan Sulit "Naik Kelas"

Redaksi Prokal • 2026-02-23 08:30:00

Kaltara dikenal sebagai salah satu sentra produksi rumput laut, namun sebagian besar hasil panen masih dikirim antarwilayah sebelum diekspor. (HRK)
Kaltara dikenal sebagai salah satu sentra produksi rumput laut, namun sebagian besar hasil panen masih dikirim antarwilayah sebelum diekspor. (HRK)

TARAKAN – Masa kejayaan rumput laut Tarakan satu dekade lalu kini menyisakan tantangan besar bagi para pembudidaya. Bukannya meroket, harga komoditas ini justru stagnan akibat sistem penjualan yang tidak berpihak kepada petani serta kualitas hasil panen yang kian merosot dibandingkan daerah lain.

Dinas Perikanan (DPK) Tarakan menengarai panjangnya rantai distribusi sebagai akar masalah lemahnya posisi tawar petani. Skema distribusi yang berlapis—mulai dari peluncur tingkat pertama, peluncur kedua, pengumpul kecil, hingga pengumpul besar—membuat selisih harga di tingkat bawah sulit terdongkrak.

Kabid Budidaya Perikanan, Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan DPK Tarakan, Husna Ersant Dirgantar, menjelaskan bahwa idealnya pembudidaya bisa memotong jalur distribusi tersebut. Namun, realita di lapangan menunjukkan banyak petani yang terjerat sistem utang modal kepada pengumpul tertentu.

"Karena sebagian pembudidaya memiliki pinjaman modal kepada pengumpul, hasil panen otomatis harus dijual ke pihak tersebut. Jika tidak terikat pinjaman, mereka bisa langsung ke pengumpul besar dan harga pasti lebih baik," ujar Husna, Minggu (22/2/2026).

Selain faktor tata niaga, persoalan perilaku pascapanen juga menjadi kendala serius. Demi mendapatkan perputaran uang yang cepat, banyak petani nekat menjual rumput laut dalam kondisi yang belum kering sempurna.

Padahal, proses pengeringan tambahan selama dua hingga tiga hari dapat meningkatkan kualitas dan harga jual secara signifikan. Namun, desakan kebutuhan modal harian membuat petani lebih memilih menjual lebih awal meski dengan harga rendah, yang pada akhirnya justru merugikan mereka sendiri di pasar persaingan antar-daerah.

Pemerintah Kota Tarakan kini mulai menjajaki solusi melalui Perumda Agribisnis untuk memutus rantai distribusi yang berbelit tersebut. Beberapa waktu lalu, langkah konkret telah dilakukan dengan mengirimkan beberapa kontainer rumput laut langsung ke PT BLG di Pinrang, Sulawesi Selatan.

Langkah ini disebut memberikan harga yang jauh lebih kompetitif bagi pembudidaya. Jika skema kerja sama melalui Perumda ini bisa diperluas dan ketergantungan modal pada tengkulak bisa ditekan, harapan untuk melihat petani rumput laut Tarakan kembali berjaya bukan lagi sekadar impian. (*)

Editor : Indra Zakaria