LAMONGAN – Awan mendung kian pekat menyelimuti langkah Persiba Balikpapan di musim 2025/2026. Bertandang ke Stadion Surajaya, Sabtu (28/3/2026), tim berjuluk Beruang Madu ini terpaksa pulang dengan kepala tertunduk setelah menyerah 0-2 di tangan tuan rumah, Persela Lamongan.
Kekalahan ini bukan sekadar hilangnya tiga poin, melainkan sebuah penegasan atas masalah kronis yang menghantui Persiba sepanjang musim: lini serang yang tumpul dan pertahanan yang rapuh.
Sejatinya, Persiba tidak tampil buruk sejak peluit pertama dibunyikan. Isfandyar dan kolega sempat memberikan perlawanan sengit, bahkan mampu mengimbangi ritme permainan cepat Laskar Joko Tingkir. Namun, penguasaan bola yang mereka bangun seolah menjadi dominasi semu. Serangan demi serangan yang dibangun patah sebelum mencapai kotak penalti, gagal dikonversi menjadi ancaman nyata yang bisa menggetarkan gawang lawan.
Petaka bagi Persiba mulai terpapar di babak kedua saat Persela tampil lebih klinis. Pada menit ke-55, Adam Malik berhasil memecah kebuntuan. Ia memanfaatkan kelengahan koordinasi lini belakang Persiba yang gagal mengantisipasi bola di area berbahaya, mengubah skor menjadi 1-0 untuk tuan rumah.
Alih-alih bangkit mengejar ketertinggalan, Persiba justru kembali dihukum pada menit ke-79. Di saat para pemain Beruang Madu mulai keluar menyerang secara sporadis, Riski Boski melakukan serangan balik cepat. Dengan penyelesaian akhir yang dingin, ia mengunci kemenangan Persela menjadi 2-0.
Kekalahan ini memperpanjang tren negatif Persiba yang kian mengkhawatirkan. Dari 22 pertandingan yang telah dilakoni, mereka tercatat sudah menelan 13 kali kekalahan. Dengan hanya mengantongi 17 poin, posisi Persiba kini berada di ambang zona play-off degradasi.
Ancaman turun kasta kini bukan lagi sekadar spekulasi, melainkan kenyataan yang menghantui di depan mata. Jika para pesaing terdekat mampu mencuri poin di laga lain, posisi Persiba dipastikan akan semakin terjepit. Sebaliknya, bagi Persela, kemenangan ini menjadi modal krusial dengan koleksi 33 poin untuk tetap bersaing di papan atas klasemen.
Kini, waktu kian sempit bagi manajemen dan tim pelatih Persiba. Tanpa perubahan radikal di sisa musim, alarm degradasi yang berbunyi nyaring di Lamongan ini bisa saja berakhir dengan duka di akhir kompetisi. (*)
Editor : Indra Zakaria