Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Kutukan Zidane? "Ini Adalah Piala Dunia Terakhir Italia yang Akan Mereka Menangkan"

I
Momen ikonik saat Zinedine Zidane menanduk dada Marco Materazzi.
Momen ikonik saat Zinedine Zidane menanduk dada Marco Materazzi.

Advertisement

 


PARIS – Dunia sepak bola kembali diguncang oleh pernyataan tajam legenda Prancis, Zinedine Zidane. Di tengah kepedihan publik Italia yang harus menyaksikan tim nasional mereka absen di Piala Dunia untuk ketiga kalinya berturut-turut, Zidane akhirnya buka suara mengenai memori kelam di Final 2006 dan sebuah "prediksi" yang kini tampak seperti kutukan yang menjadi kenyataan.

Semua penggemar sepak bola tentu ingat peristiwa di Olympiastadion, Berlin, ketika sundulan Zidane ke dada Marco Materazzi mengubah sejarah. Namun, bagi Zidane, momen itu bukan sekadar reaksi impulsif, melainkan sebuah ketidakadilan yang tidak pernah ia lupakan.

"Di final itu, Marco Materazzi menghina saudara perempuan saya. Saya mengeluh, tetapi tidak ada tindakan yang diambil," kenang Zidane dengan nada bicara yang masih menyimpan kekecewaan mendalam.

Momen Zidane diusir usai menanduk Materazzi. Nampak Genaro Gattuso yang kini gagal membawa Italia ke putaran final Piala Dunia.
Momen Zidane diusir usai menanduk Materazzi. Nampak Genaro Gattuso yang kini gagal membawa Italia ke putaran final Piala Dunia.

Advertisement

 

Keputusan wasit untuk mengusir sang maestro dari lapangan hijau menjadi titik balik yang merugikan Prancis. "Ketika saya bereaksi, wasit mengusir saya, dan itu membuat kami kehilangan Piala Dunia. Karier saya berakhir dengan kartu merah," tambahnya. Namun, bagian paling mengejutkan dari pernyataan Zidane adalah apa yang ia sampaikan kepada para pemain Italia di tengah hiruk-pikuk perayaan gelar juara mereka saat itu. Di balik kekecewaannya, Zidane melontarkan sebuah kalimat yang kini bergema kembali dengan sangat kuat.

"Saya memberi tahu mereka saat itu—bahwa itu adalah Piala Dunia terakhir yang akan mereka menangkan."

Pernyataan ini terasa sangat dingin mengingat rekam jejak Gli Azzurri setelah malam di Berlin tersebut. Sejak mengangkat trofi pada 2006, Italia mengalami penurunan performa yang drastis di panggung dunia: tersingkir di fase grup pada 2010 dan 2014, hingga puncaknya gagal lolos ke putaran final pada 2018, 2022, dan kini 2026. Kegagalan Italia untuk lolos ke Piala Dunia ketiga kalinya secara beruntun telah memicu perdebatan di seluruh Eropa. Apakah ini murni masalah teknis dan regenerasi pemain, ataukah ada beban psikologis dari masa lalu yang belum terselesaikan?

Bagi para pendukung Prancis, kata-kata Zidane adalah bentuk keadilan puitis. Namun bagi Italia, pernyataan ini menjadi pengingat pahit bahwa sejak malam itu, mereka seolah kehilangan "sentuhan emas" di turnamen paling bergengsi sejagat raya. (*)

Advertisement
Editor : Indra Zakaria
Sumber : prokal.co
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
ProkalIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Kebutuhan Mendesak Cetak Pilot Modern: Mengapa TNI AU Memilih Jet Tempur Leonardo M-346 Italia?

Kebutuhan Mendesak Cetak Pilot Modern: Mengapa TNI AU Memilih Jet Tempur Leonardo M-346 Italia?

Kebutuhan Mendesak Cetak Pilot Modern: Mengapa TNI AU Memilih Jet Tempur Leonardo M-346 Italia?

Indonesia Boyong 12 Pesawat Tempur Italia untuk Gembleng Pilot TNI AU

Indonesia Boyong 12 Pesawat Tempur Italia untuk Gembleng Pilot TNI AU

Indonesia telah menandatangani kontrak pengadaan pesawat tempur dari perusahaan Italia, Leonardo. (aeronautics.leonardo.com)

Ambisi Gli Azzurri Boyong Pep Guardiola, Maldini dan Leonardo Terbang ke Barcelona

Ambisi Gli Azzurri Boyong Pep Guardiola, Maldini dan Leonardo Terbang ke Barcelona

Italia Serius Dekati Pep Guardiola, Maldini dan Leonardo Terbang ke Barcelona

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer