Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Pengakuan Jujur Pep Guardiola: Sejak Ditinggal Jurgen Klopp, Liverpool Kehilangan Faktor Horor

I
Juergen Klopp dan Pep Guardiola.
Juergen Klopp dan Pep Guardiola.

Advertisement

 

 
MANCHESTER – Di tengah momen perpisahan emosionalnya dengan Manchester City, Pep Guardiola sempat melontarkan pandangan mendalam mengenai rivalitas terbesarnya di Liga Inggris. Pria asal Spanyol itu secara terbuka membahas penurunan performa Liverpool sejak ditinggalkan oleh sang arsitek legendaris, Jürgen Klopp.

Bagi Pep, rivalitas melawan Liverpool era Klopp adalah ujian terberat sekaligus paling melelahkan sepanjang karier manajerialnya. Karakteristik permainan The Reds saat itu diakui Pep selalu berhasil meneror pikirannya, bahkan di musim-musim saat Manchester City keluar sebagai juara.

Advertisement

Guardiola mengenang bagaimana Liverpool di bawah asuhan Klopp bermain dengan intensitas yang mengerikan. Skuad Merseyside Merah saat itu tampil bak singa lapar yang siap menerkam setiap jengkal kesalahan yang dibuat oleh lawannya.

"Selama bertahun-tahun saya menghadapi Jürgen Klopp, Liverpool adalah satu-satunya tim yang membuat saya merasa bahwa setiap kesalahan sekecil apa pun bisa menghukum Anda. Mereka bermain dengan rasa lapar, amarah, dan kepribadian yang kuat. Bahkan ketika kami memenangkan liga, Liverpool-nya Klopp tetap membekas di pikiran kami karena mereka memiliki identitas yang sangat jelas," kenang Guardiola.

Hilangnya 'Faktor Horor' di Anfield

Advertisement

Namun, dinamika itu kini telah berubah. Menatap kondisi Liverpool saat ini, Guardiola melihat ada sesuatu yang menguap dari tubuh sang rival. Meski raksasa Anfield itu masih dihuni oleh deretan pemain berkualitas dan didukung oleh basis suporter yang fanatik, mereka dinilai tidak lagi mengintimidasi seperti dulu.

"Sekarang Anda melihat Liverpool dan ada sesuatu yang hilang. Mereka masih memiliki kualitas, mereka masih memiliki suporter yang luar biasa, tetapi faktor ketakutan (fear factor) itu tidak lagi sama," jelas Pep.

Menurut analisa Guardiola, apa yang dibangun Klopp di Anfield melampaui strategi dan papan taktik. Klopp berhasil menanamkan jiwa ke dalam tim hingga mereka dijuluki sebagai "Monster Mentalitas". Ketika sosok asal Jerman itu angkat kaki, pondasi emosional itulah yang paling goyah.

"Klopp membangun monster mentalitas. Ketika dia pergi, sebagian dari identitas itu ikut pergi bersamanya. Menggantikan manajer seperti itu hampir mustahil dilakukan karena Anda tidak hanya menggantikan ide-ide sepak bola, Anda sedang mencoba menggantikan sebuah emosi," pungkas Guardiola.

Pernyataan ini seolah menjadi pengingat bagi dunia sepak bola bahwa taktik jenius bisa direplikasi, namun ikatan emosional dan determinasi tinggi yang ditiupkan seorang manajer karismatik ke dalam dada para pemainnya adalah sesuatu yang tidak bisa dibeli atau digantikan dengan mudah. (*)

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
ProkalIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Ambisi Gli Azzurri Boyong Pep Guardiola, Maldini dan Leonardo Terbang ke Barcelona

Ambisi Gli Azzurri Boyong Pep Guardiola, Maldini dan Leonardo Terbang ke Barcelona

Italia Serius Dekati Pep Guardiola, Maldini dan Leonardo Terbang ke Barcelona

Kisah di Balik Layar Etihad: Pep Guardiola Ternyata Sudah 100 Kali Ingin Mundur dari Manchester City

Kisah di Balik Layar Etihad: Pep Guardiola Ternyata Sudah 100 Kali Ingin Mundur dari Manchester City

Namun, sebuah fakta mengejutkan baru saja diungkapkan oleh petinggi klub. Bos besar Manchester City, Khaldoon Al Mubarak, membeberkan bahwa keputusan Pep untuk pergi sebenarnya bukanlah hal baru bagi

Era Baru Liga Inggris Tanpa Guardiola dan Klopp, Wayne Rooney: Seperti Kehilangan Dua Monster!

Era Baru Liga Inggris Tanpa Guardiola dan Klopp, Wayne Rooney: Seperti Kehilangan Dua Monster!

Era Baru Liga Inggris Tanpa Guardiola dan Klopp, Wayne Rooney: Seperti Kehilangan Dua Monster! Legenda Manchester United, Wayne Rooney, memberikan pandangan emosionalnya mengenai peta persaingan Premi

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer