Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Qatar Sudah Compang-camping Diganjar 2 Kartu Merah, Kanada Enggan 'Kasih Kendor' hingga Hancur 6-0, Pelatihnya Ngamuk

R
Jesse Marsch (kanan) terlibat perseteruan sengit dengan bos Qatar, Julen Lopetegui (tengah).
Jesse Marsch (kanan) terlibat perseteruan sengit dengan bos Qatar, Julen Lopetegui (tengah).

Advertisement

PROKAL.CO- Tensi tinggi dan drama di lapangan hijau tidak hanya terjadi karena perebutan bola, melainkan bisa dipicu oleh masalah "etika" intensitas pertandingan. Baru-baru ini, laga antara Kanada dan Qatar berakhir dengan perselisihan sengit yang melibatkan kedua pelatih kepala di pinggir lapangan.

Melansir laporan dari media terkemuka Brasil, ge.globo, bentrokan mulut antara pelatih kepala Qatar, Julen Lopetegui, dan pelatih kepala Kanada, Jesse Marsch, dipicu oleh rasa frustrasi mendalam atas jalannya babak kedua. Lopetegui dilaporkan tidak terima dan mengeluhkan sikap Marsch yang tetap menginstruksikan anak asuhnya untuk tampil "kesetanan" tanpa menurunkan intensitas permainan.

Situasi Berat Sejak Menit ke-52

Advertisement

Pertandingan sebenarnya berjalan sangat timpang sejak awal. Petaka luar biasa menghantam Qatar ketika mereka harus bermain dengan hanya sembilan orang di lapangan pada menit ke-52 akibat kartu merah, di mana saat itu posisi mereka sudah tertinggal 3-0. Melihat situasi lawan yang pincang, Kanada di bawah komando Jesse Marsch bukannya mengendurkan serangan atau sekadar melakukan penguasaan bola aman, mereka justru terus menggempur pertahanan negara Arab tersebut di setengah jam terakhir laga. Alhasil, Kanada menutup pertandingan dengan kemenangan telak dan tanpa ampun lewat skor 6-0.

Lopetegui Anggap Kanada Berlebihan

Bagi seorang Julen Lopetegui, tindakan tim lawan yang terus membombardir skuadnya yang sudah compang-camping dinilai sudah sangat berlebihan dan tidak menghormati lawan. Frustrasinya memuncak karena sepanjang laga ia melihat Jesse Marsch sama sekali tidak memberikan gestur atau perintah kepada para pemain Kanada untuk bermain lebih santai.

Advertisement

Hingga peluit panjang ditiup, adu argumen antara kedua juru taktik tersebut tidak terhindarkan di pinggir lapangan. Kubu Kanada tampaknya merasa bahwa mencetak gol sebanyak-banyaknya adalah bentuk profesionalisme, sementara kubu Qatar menganggap hal itu sebagai tindakan yang mencederai semangat fair play di saat lawan sudah tidak berdaya. (*)

Advertisement
Editor : Indra Zakaria
Sumber : prokal.co
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
ProkalIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Kanada vs Maroko: Sejarah Masih Berpihak kepada Singa Atlas

Kanada vs Maroko: Sejarah Masih Berpihak kepada Singa Atlas

Panggung babak 16 besar Piala Dunia 2026 siap menyajikan duel sengit penuh aroma dendam saat Kanada menantang Maroko pada Minggu (5/7/2026) pukul 00.00 WIB. Laga hidup-mati yang akan disiarkan langsun

Suara Patah Tulang Terdengar hingga Bangku Cadangan: Kemenangan Telak Kanada Dibayar Mahal Cedera Horor Ismael Kone

Suara Patah Tulang Terdengar hingga Bangku Cadangan: Kemenangan Telak Kanada Dibayar Mahal Cedera Horor Ismael Kone

Suara Patah Tulang Terdengar hingga Bangku Cadangan: Kemenangan Telak Kanada Dibayar Mahal Cedera Horor Ismael Kone VANCOUVER — Kemenangan bersejarah Kanada yang sukses melibas Qatar dengan skor tela

Kemenangan Bersejarah Kanada: Kaki Ismael Kone Patah, Jesse Marsch dan Julen Lopetegui Nyaris Baku Hantam di Piala Duni

Kemenangan Bersejarah Kanada: Kaki Ismael Kone Patah, Jesse Marsch dan Julen Lopetegui Nyaris Baku Hantam di Piala Duni

Cedera mengerikan ini terjadi tepat di depan bangku cadangan, di mana semua orang bahkan bisa mendengar dengan jelas bunyi tulang yang patah. Kondisi ini sempat membuat seluruh tim Kanada terguncang,

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer