NEW YORK - Persiapan Amerika Serikat sebagai tuan rumah Piala Dunia 2026 kini dihantui krisis keamanan serius. Dana hibah sebesar hampir 900 juta dolar AS (sekitar Rp14 triliun) yang diperuntukkan bagi 11 kota tuan rumah hingga kini belum dapat dicairkan akibat penutupan sebagian pemerintahan federal (government shutdown) yang masih berlangsung.
Penundaan ini berdampak langsung pada program pengamanan yang dikelola oleh Federal Emergency Management Agency (FEMA). Padahal, anggaran tersebut sangat krusial untuk melindungi pemain, ofisial, hingga jutaan penonton yang akan memadati stadion. Sebanyak 625 juta dolar AS dialokasikan untuk operasi keamanan utama, sementara 250 juta dolar AS lainnya khusus disiapkan untuk penguatan teknologi deteksi dan penanggulangan ancaman drone.
Kondisi ini memicu kekhawatiran besar di tingkat lokal. Di Kansas City, otoritas setempat mengeluhkan keterbatasan personel keamanan yang belum bisa ditambah tanpa kepastian anggaran. Situasi lebih kritis terjadi di Boston; Stadion Gillette yang dijadwalkan menggelar tujuh pertandingan dilaporkan menghadapi tekanan finansial hebat. Muncul spekulasi bahwa status tuan rumah kota tersebut bisa terancam jika kucuran dana dari pemerintah pusat terus tertahan.
"Tanpa pencairan anggaran, sulit bagi kami untuk memaksimalkan persiapan pengamanan berskala besar," ungkap salah satu otoritas di Kansas City saat menanggapi hambatan operasional yang mereka hadapi. Kurangnya sinkronisasi antara pemerintah federal dan daerah akibat kebuntuan politik ini disebut-sebut memperlambat langkah antisipasi risiko keamanan internasional.
Piala Dunia 2026, yang juga digelar bersama Kanada dan Meksiko, dijadwalkan memulai sepak mula pada 11 Juni 2026. Amerika Serikat sendiri akan melakoni laga perdana melawan Paraguay di Los Angeles pada 13 Juni. Dengan waktu yang semakin sempit, reputasi AS sebagai penyelenggara kini berada di ujung tanduk jika jaminan keamanan bagi tim-tim besar seperti Inggris dan Skotlandia yang akan bertanding di wilayah tersebut tidak segera teratasi. (*)
Editor : Indra Zakaria