TEHERAN- Dunia sepak bola internasional dikejutkan oleh keputusan drastis yang diambil Pemerintah Iran. Menjelang perhelatan Piala Dunia FIFA 2026, Teheran secara resmi menyatakan bahwa tim nasional mereka tidak akan terbang ke Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada. Langkah boikot ini diambil sebagai respons atas eskalasi konflik militer yang kian memanas antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel, terutama pasca-serangan udara yang menewaskan pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.
Menteri Olahraga Iran, Ahmad Donyamali, menegaskan posisi negaranya dalam sebuah siaran televisi nasional pada Rabu (11/3/2026). Ia menyatakan bahwa martabat bangsa dan keselamatan para pemain jauh lebih berharga daripada sebuah turnamen olahraga. Gejolak keamanan di kawasan Teluk dan rasa duka mendalam atas tewasnya ribuan rakyat menjadi alasan utama di balik keputusan pahit ini.
”Mengingat rezim korup ini telah membunuh pemimpin kita, dalam keadaan apa pun kita tidak dapat berpartisipasi dalam Piala Dunia,” tegas Donyamali.
Kondisi psikologis dan fisik para atlet juga menjadi kekhawatiran besar pemerintah. Donyamali menilai Amerika Serikat, yang dijadwalkan menjadi tuan rumah seluruh laga fase grup Iran di Seattle dan Los Angeles, bukanlah tempat yang aman bagi timnya. Hubungan diplomatik yang telah terputus total membuat atmosfer kompetisi dianggap tidak lagi kondusif bagi semangat olahraga.
”Anak-anak kita tidak aman dan, pada dasarnya, kondisi untuk berpartisipasi seperti itu tidak ada. Mengingat tindakan jahat yang telah mereka lakukan, tentu kami tidak dapat hadir di sana,” lanjutnya.
Padahal, sebelum pengumuman boikot ini mencuat, Presiden FIFA Gianni Infantino sempat mengupayakan jalur diplomasi olahraga. Dalam pertemuan dengan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, di Washington pada Selasa (10/3/2026) malam, pihak tuan rumah sebenarnya telah memberikan lampu hijau dan jaminan keamanan bagi Tim Melli untuk tetap berkompetisi. Trump menegaskan bahwa pintu Amerika Serikat terbuka lebar bagi Iran demi menjaga integritas turnamen edisi 48 tim tersebut.
Namun, tawaran tersebut tampaknya tidak cukup untuk meredam kemarahan Teheran. Dengan mundurnya Iran dari Grup G yang dihuni Belgia, Mesir, dan Selandia Baru, FIFA kini menghadapi dilema besar untuk mencari tim pengganti di saat turnamen tinggal menghitung bulan. Tragedi ini menjadi catatan kelam dalam sejarah sepak bola modern, di mana garis lapangan hijau gagal membendung derasnya arus konflik geopolitik global. (*)
Editor : Indra Zakaria