MANCHESTER – Di tengah sorotan kekalahan Manchester City dari Real Madrid di Liga Champions, Pep Guardiola mengejutkan insan pers dengan sebuah pengakuan jujur mengenai peta persaingan sepak bola yang ia hadapi. Alih-alih menunjuk raksasa Spanyol sebagai lawan tersulit, pelatih asal Catalunya itu justru menyebut Jurgen Klopp dan Liverpool sebagai ujian terberat yang pernah ia lalui.
Dalam sebuah momen reflektif usai laga di Stadion Etihad, Rabu (18/3), Guardiola memberikan perspektif baru bagi para jurnalis, terutama mereka yang terbiasa dengan atmosfer sepak bola Spanyol. Bagi Guardiola, intensitas persaingan dengan Liverpool di bawah asuhan Klopp telah membentuk standar baru dalam manajerialnya. Ia menilai banyak pihak luar yang tidak benar-benar memahami tekanan psikologis dan fisik saat harus berhadapan dengan The Reds di puncak performa mereka.
“Real Madrid bukanlah tantangan terbesar saya. Tantangan terbesar saya adalah Jurgen Klopp dan Liverpool,” tegas Guardiola dengan nada serius.
Ia kemudian menyindir halus para wartawan yang mungkin terlalu terpaku pada rivalitas di La Liga. “Mungkin kalian berada di Spanyol dan tidak menyadarinya… Kalian tidak tahu bagaimana rasanya menghadapi Liverpool dalam pertandingan-pertandingan itu, sebuah pengalaman belajar yang luar biasa,” tambahnya.
Pernyataan Guardiola ini merujuk pada persaingan ketat di Liga Inggris selama beberapa musim terakhir, di mana Manchester City dan Liverpool sering kali terlibat dalam perburuan gelar hingga pekan terakhir dengan perolehan poin yang hampir menyentuh angka 100.
Menurut Pep, gaya main Gegenpressing milik Klopp adalah satu-satunya skema yang benar-benar mampu merusak ritme penguasaan bola timnya. Tekanan tersebut memaksa Guardiola untuk terus berinovasi dan mencari celah taktis yang tidak ia temukan saat menghadapi lawan lainnya.
Pengakuan ini juga dianggap sebagai bentuk penghormatan tinggi kepada Jurgen Klopp, mengingat rivalitas keduanya telah menjadi warna utama dalam sepak bola Inggris selama hampir satu dekade. Meski kini Madrid menjadi batu sandungan di kancah Eropa, bagi Guardiola, fondasi kekuatan mentalitas City justru ditempa melalui "perang saraf" dan adu taktik melawan Liverpool.
Kini, setelah tersingkir dari kompetisi kontinental, Guardiola tampaknya ingin segera mengalihkan fokus ke sisa kompetisi domestik, di mana bayang-bayang rivalitas dengan pelatih asal Jerman tersebut tetap menjadi motivasi utamanya untuk terus mempertahankan takhta. (*)
Editor : Indra Zakaria