Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Gelar Juara Piala Afrika Dicabut, Senegal Seret CAF ke Pengadilan Arbitrase Olahraga 

Redaksi Prokal • 2026-03-19 07:45:00

Aksi walk out singkat Timnas Senegal di final Piala Afrika 2025 menuai kritik keras. Banyak pihak menilai insiden tersebut mencoreng citra sepak bola Afrika. (Instagram/@afcon2025_)
Aksi walk out singkat Timnas Senegal di final Piala Afrika 2025 menuai kritik keras. Banyak pihak menilai insiden tersebut mencoreng citra sepak bola Afrika. (Instagram/@afcon2025_)

 

LAUSANNE – Drama perebutan takhta sepak bola tertinggi di Benua Hitam memasuki babak baru yang kian memanas. Federasi Sepak Bola Senegal (FSF) secara resmi mengajukan banding ke Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS) di Lausanne, Swiss, guna menggugat keputusan Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF) yang mencabut gelar juara Piala Afrika (AFCON) 2025 dari tangan mereka.

Ketegangan ini bermula saat CAF secara mengejutkan menyerahkan trofi juara kepada tim nasional Maroko. Langkah tersebut diambil setelah Senegal dinyatakan melanggar aturan dalam laga final yang digelar di Stadion Prince Moulay Abdellah, Rabat, pada 18 Januari 2026 lalu. Keputusan ini memicu kemarahan besar dari pihak Senegal yang merasa dikhianati oleh sistem hukum sepak bola di benua tersebut.

Sekretaris Jenderal FSF, Abdoulaye Seydou, menegaskan bahwa tindakan CAF merupakan preseden buruk bagi dunia olahraga. Menurutnya, pencabutan gelar tersebut tidak memiliki dasar hukum yang kuat dan mencederai integritas kompetisi.

"Keputusan ini sangat tidak adil, belum pernah terjadi sebelumnya, dan sama sekali tidak dapat diterima. Ini mencoreng nama baik sepak bola Afrika. Keputusan tersebut merupakan pelanggaran kepercayaan yang tidak didasarkan pada aturan hukum apa pun," ujar Seydou sebagaimana dikutip dari BBC News, Rabu (18/3).

Polemik ini semakin rumit setelah laga final yang awalnya berakhir dengan kemenangan 1-0 untuk Senegal dibatalkan. Maroko kemudian ditetapkan sebagai pemenang dengan skor hukum 3-0 menyusul aksi walk out yang dilakukan skuad Senegal. Aksi meninggalkan lapangan tersebut sebenarnya merupakan bentuk protes Senegal terhadap situasi di lapangan, namun justru menjadi senjata bagi CAF untuk membalikkan kedudukan secara administratif.

Di sisi lain, publik Maroko kini merayakan status baru mereka sebagai juara AFCON 2025, meskipun kemenangan tersebut diraih melalui meja hijau, bukan lewat adu taktik di lapangan hijau. Hal ini menjadi kontras dengan kegagalan bintang mereka, Brahim Diaz, yang sempat meminta maaf karena gagal mengeksekusi penalti pada laga final tersebut.

Senegal nampaknya tidak akan mundur selangkah pun. FSF berkomitmen untuk menguras seluruh energi hukum mereka demi mengembalikan kehormatan yang mereka anggap telah dirampas secara sepihak.

"Kami tidak akan berhenti sampai di sini. Hukum ada di pihak kami. Perjuangan masih jauh dari selesai, Senegal akan membela hak-haknya sampai titik darah penghabisan," tegas Seydou. Kini, mata dunia tertuju pada Lausanne. Keputusan CAS nantinya akan menjadi penentu akhir apakah trofi tersebut akan tetap berada di Maroko atau kembali terbang ke Dakar, sekaligus menjadi ujian berat bagi wibawa CAF di mata internasional. (*)

Editor : Indra Zakaria