Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Bangun Keluarga Sejahtera dengan Melek Pentingnya Kontrasepsi

i
Penulis: izak-Indra Zakaria❯

PERTUMBUHAN penduduk yang tidak terkendali bisa menjadi beban negara dalam berbagai hal. Untuk menekan laju pertumbuhan penduduk, edukasi penggunaan kontrasepsi jangka panjang merupakan cara efektif.


Advertisement

Ketua Bidang Keluarga Berencana, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Sudibyo mengatakan, pihaknya gencar melakukan edukasi. Dia mengatakan, survei demografi kesehatan Indonesia pada 2017 menunjukkan penggunaan alat kontrasepsi modern semakin menurun pada segmen usia muda. Yaitu, 17 hingga 29 tahun.

“Akhirnya hal ini jadi berpengaruh pada tingginya kehamilan pasangan muda di Indonesia. Kalau diperkirakan mencapai 500 ribu kehamilan setiap tahunnya,” jelas dia.

Beberapa penyebab utama menurunnya penggunaan kontrasepsi, yaitu rendahnya pengetahuan anak muda terhadap kesehatan reproduksi. Juga, kurangnya akses terhadap informasi yang akurat dan tepercaya tentang kontrasepsi.

Advertisement

Kegiatan edukasi alat kontrasepsi dilakukan demi tercapainya keluarga sejahtera. Tak hanya itu, edukasi yang mendukung program dua anak lebih baik juga mampu meminimalkan risiko yang dihadapi ibu hamil.

“Dari segi kesehatan sang ibu, anak pertama dan kedua memang tercatat sebagai jumlah dengan proses kelahiran paling aman,” tambahnya.

Selain jumlah anak, Sudibyo menyarankan, pasutri memberi jarak antara kelahiran anak pertama dan kedua. Sekitar dua hingga empat tahun, untuk pertumbuhan anak yang lebih baik.

Advertisement

“Dengan jarak tersebut, anak pertama diharapkan mendapatkan pengasuhan yang lebih baik. Khususnya pada dua tahun pertama kelahiran, sebab masih dalam fase usia emas bagi pertumbuhan anak,” ungkapnya.

Sudibyo menjelaskan, jika salah satu kendala terbesar dalam mengedukasi masyarakat adalah karakter pasutri muda yang masih percaya dengan hal-hal mitos yang rancu. Misal suntik atau mengonsumsi obat KB, badan menjadi gemuk.

Padahal, semua bergantung pada reseptor tubuh masing-masing. Jika menjalani pola hidup sehat, maka tidak akan mengalami kenaikan berat badan. Kemudian, mitos lainnya yakni jika menggunakan jenis IUD atau spiral yang dipasang di rahim. Bahwa, alat tersebut dapat berpindah tempat.

IUD tidak dapat berpindah tempat, namun perlu kontrol untuk mengecek lokasinya. Sebab itu, penting untuk melakukan pemeriksaan rutin setahun sekali ke bidan atau dokter jika ada keluhan.

Pemerintah melalui BKKBN, terus berupaya mengedukasi masyarakat agar lebih sadar tentang pentingnya perencanaan keluarga dengan metode kontrasepsi yang hasilnya tentu lebih efektif dan efisien.

“Kami juga berharap, pasangan yang akan menikah nantinya lebih aktif mencari tahu mengenai informasi yang akurat seputar kontrasepsi dari sumber yang tepercaya. Sehingga tidak mudah termakan mitos tentang kontrasepsi," tandasnya. (*/nul*/rdm2/k8)

Advertisement
Editor : izak-Indra Zakaria
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
ProkalIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Bikin Hubungan Makin Membara: 22 Pertanyaan Intim yang Bisa Membangkitkan Gairah Pasangan

Bikin Hubungan Makin Membara: 22 Pertanyaan Intim yang Bisa Membangkitkan Gairah Pasangan

Bikin Hubungan Makin Membara: 22 Pertanyaan Intim yang Bisa Membangkitkan Gairah Pasangan

Kesehatan Pria di Ambang Krisis: Dokter Spesialis Urologi Ungkap Alasan 80% Pria Kehilangan "Morning Wood" dan Mudah Lelah

Kesehatan Pria di Ambang Krisis: Dokter Spesialis Urologi Ungkap Alasan 80% Pria Kehilangan "Morning Wood" dan Mudah Lelah

Kesehatan Pria di Ambang Krisis: Dokter Spesialis Urologi Ungkap Alasan 80% Pria Kehilangan "Morning Wood" dan Mudah Lelah

Ini 3 Jenis Dinamika Keluarga yang Berpotensi Melahirkan Pria Narsistik, Kenali Sebelum Menikah!

Ini 3 Jenis Dinamika Keluarga yang Berpotensi Melahirkan Pria Narsistik, Kenali Sebelum Menikah!

Memilih pasangan hidup bukan hanya tentang menerima kepribadian si pria, melainkan juga memahami lingkungan tempat ia dibesarkan. Sebuah pola asuh dan dinamika keluarga yang toxic sering kali menjadi

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer