
Penyanyi era 80-an, Sayyid Muhammad bin Syagab Al-Idrus atau Rama Aiphama meninggal pada Rabu (11/3) sekitar pukul 04.30 waktu setempat. Kabar tersebut dibenarkan Ibrahim Alydrus, adik dari Rama Aiphama.
MENURUT penuturan Ibrahim, penyanyi yang mencapai puncak kejayaan di era 90-an itu meninggal jelang waktu salat Subuh. Sebelum meninggal, Rama Aiphama sempat mengeluhkan sakit pada bagian lambung.
“Dia lumayan sering mengeluh sakit asam lambung. Meningalnya tadi pagi (kemarin),” ucap Ibrahim.
Kabar meninggalnya Rama Aiphama juga dibenarkan Sam Alatas, sahabat Rama Aiphama. Dia mengaku, tidak pernah mendengar kabar pemilik darah Arab-Gorontalo itu mengalami sakit yang serius. Dia pun cukup syok begitu mendengar kabar Rama Aiphama kini telah tiada.
“Aku enggak pernah dengar kabar dia sakit. Cukup terkejut, syok juga pas dapat kabar sudah enggak ada,” ucap Sam Alatas.
Dia mengaku, tidak sempat melayat ke rumah duka kemarin. Karena Sam Alatas ada pekerjaan yang tidak mungkin ditinggalkan di Bandung, Jawa Barat. “Aku lagi ada di Bandung nih, kayaknya enggak bisa ke rumah duka hari ini,” paparnya.
Jenazah penyanyi yang tutup lembaran hidup di usia 63 tahun itu, dimakamkan sore kemarin (11/3) setelah salat Asar di pemakaman TP Al Muchdar, Cimanggis, Jakarta Timur.
Rama Aiphama memulai karier sebagai penyanyi sejak 1981. Selama ini, dia dikenal sebagai penyanyi dangdut, keroncong, reggae, dan melayu. Puncak popularitasnya terjadi pada era 90-an.
Sejumlah karya album dan single telah berhasil dibuatnya di pentas musik Indonesia. Di antaranya adalah Aku yang Merindukanmu, Ratna, Dinda Bestari, Keroncong Disco Reggae, Jawa Disco Reggae dan yang lainnya.
Eksis di dunia musik Tanah Air, Rama Aiphama dikenal memiliki ciri khas mencolok berupa pakaian menjuntai warna-warni yang selalu dikenakannya pada waktu tampil. Rama Aiphama juga melengkapi penampilannya itu dengan topi lebar. (jpnn/is)
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

