
SEAKAN tidak peduli, masyarakat kerap saja percaya dengan kosmetik ilegal. Tidak memiliki izin edar, menawarkan khasiat instan.
Itulah yang dijelaskan Vera Pravitasari, dokter di salah satu klinik kecantikan di Samarinda. Sudah banyak pasien yang datang, mengeluhkan sakit atau gangguan kulit dari penggunaan produk kecantikan ilegal. “Beberapa pasien datang dengan kondisi kulit rusak akibat krim abal-abal,” sebut dia.
Ada juga pasien yang mengeluhkan munculnya stretch mark atau striae atrofi, guratan merah yang muncul di bagian tubuh yang dioles. Umumnya lengan dan paha atas. Setelah ditelusuri, ternyata si pasien menggunakan handbody racikan dosis tinggi. “Awalnya pasien denial atau tidak percaya jika krim itu penyebabnya,” lanjut Vera.
Guratan tersebut muncul tiba-tiba. Tidak gatal, tidak perih, tidak pula sakit. Pasien bingung. Ingin kulitnya kembali semula. “Terlambat, tidak bisa sembuh sama sekali,” kata Vera.
Dokter hanya bisa membantu untuk menyamarkan, itu pun pada kasus yang tidak terlalu berat. Dijelaskan jika penyebabnya adalah penggunaan kandungan steroid berlebih pada krim. Sebenarnya steroid boleh digunakan, namun perlu digarisbawahi yakni harus dalam pengawasan dokter. Penggunaannya sesuai kebutuhan.
Vera menjelaskan jika setiap pasien berbeda kondisi kulit. Ada yang membutuhkan steroid dalam jumlah tertentu. Penggunaan sesuai dosis dan ada proses tappering off. Penurunan dosis secara perlahan, dan tubuh menyesuaikan.
Nama lainnya adalah kortikosteroid. Merupakan obat antiperadangan. Bentuknya bermacam-macam, mulai suntik, oles, hingga minum. Bergantung kebutuhan pasien. Nah pada produk dengan embel-embel pemutih, umumnya ditemukan kandungan steroid tinggi.
Vera pun mengimbau masyarakat agar cerdas. Jangan tergiur janji memutihkan dalam waktu cepat. Sedangkan dalam dunia medis, tidak ada memutihkan, yang ada mencerahkan. Mengembalikan warna kulit semula.
“Makanya kalau ada yang konsultasi ingin putih, saya tidak janji ke pasien. Saya hanya bilang batas maksimal putih yang dia mau ya sesuai kondisi kulitnya. Penanganan pada kami itu proses bisa dua bulan, beda dengan janji produk ilegal yang bilang cuma seminggu bahkan hitungan hari,” paparnya.
Dia mengakui jika pasar produk pemutih instan selalu ada. Sebab, kondisi masyarakat dan konstruksi mengenai cantik harus putih masih diyakini. Nekat mesti sudah tahu akibatnya. Bisa jadi mengaku tak dapat efek samping ketika dipakai, padahal ada risiko jangka panjang yang tentu menyesal di kemudian hari.
Selain kandungan steroid, ada pula hydroquinone. Salah satu zat pemutih kulit dalam produk kecantikan. Dikatakan Vera jika penggunaannya dibatasi. Informasi mengenai hydroquinone itu yang akhirnya dimanfaatkan peracik. Dengan dosis tinggi, diklaim memutihkan dalam waktu cepat.
“Setahu saya di Indonesia itu 5 persen (batas maksimal penggunaan). Itu di bawah pengawasan dokter. Kandungannya di beberapa krim pencerah itu ada, tapi dosisnya rendah. Jika dosis tinggi, ya efeknya putih memang, tapi tidak aman,” jelas Vera.
Lebih lanjut efeknya bisa berupa melasma atau okronosis. Timbul flek hitam di wajah. Alih-alih ingin putih malah sebaliknya. Sebab itu, penggunaannya mesti diawasi ahli.
Kemudian ada juga merkuri. Bahan kimia ini seharusnya sudah tidak ada lagi dalam penggunaan krim. Sebab, memang penggunaannya dilarang.
“Kalau pakai merkuri memang putih banget. Menekan si pigmen kulitnya, bakteri baik pun buruk mati. Flora normal kulit tidak ada. Begitu lepas (tidak pakai), kulit pun kembali ke posisi awal. Flek, kulit menebal, jerawat bermunculan,” ungkapnya.
Ada pula efek telangiektasis, pelebaran pembuluh darah di wajah. Muncul urat-urat halus di wajah, terlihat jelas. Vera menegaskan jika mereka yang mulanya mengalami pelebaran pembuluh darah di wajah bukan berarti efek krim berbahaya. Tolok ukur berbahaya dilihat jika sebelumnya di wajah tidak ada pembuluh darah terlihat jelas.
Selanjutnya hirsutisme, pertumbuhan rambut berlebih di wajah. Dua efek itu yang biasanya muncul saat pemakaian. Dalam jangka panjang, bisa menyebabkan acne rosacea. Jerawat efek penggunaan steroid. “Kecil-kecil kayak beruntusan. Tapi bukan biji putih. Mirip biang keringat agak gede dan kemerahan,” ujarnya.
Proses penyembuhan bergantung efek samping penggunaan krim. Mulai peeling hingga penggunaan laser. Sebab itu, Vera mengimbau agar tak tergiur hasil instan dari harga murah. Sebab, penyembuhannya butuh waktu lama dan tentu biaya tak sedikit.
Termasuk penggunaan suntik putih. Hasil instan dengan injeksi larutan ke dalam tubuh. Dengan standar medis yang jelas, proses tersebut memang bisa dilakukan. Sebab, bisa berpengaruh pada fungsi organ dalam, hati, dan ginjal.
“Kalau kami ada prosedur cek dulu kesehatan hati dan ginjal. Aturannya jelas untuk kesehatan pasien juga,” tuturnya. Terakhir, dia menekankan bahwa standar cantik perempuan tidak harus putih. “Menerima diri sendiri. Semua warna kulit itu cantik. Tidak berlebihan. Yang penting sehat dan bersih,” tutupnya. (rdm/tom/k8)
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


