Dulu Guru Sabar dengan Anaknya, Sekarang Sabar dengan Orangtuanya

SEJAK Maret, semua sekolah diimbau untuk melakukan kegiatan belajar dari rumah (BDR). Seiring merebaknya wabah Covid-19. Dimaksudkan agar sekolah tidak menjadi tempat penularan virus tersebut. Juga, melindungi anak dengan tetap di rumah. Metode belajar daring (dalam jaringan) menjadi solusi.
“Dari Maret sudah tidak boleh tatap muka, dianjurkan daring. Tapi belum spesifik seperti apa, jadi memanfaatkan WhatsApp (WA) grup untuk pemberian tugas dan materi saat itu,” ujar Nor Hasanah, guru SD 022 Sungai Kunjang, Samarinda.
Hingga keluarlah surat dari Dinas Pendidikan (Disdik) yang diteken Kadisdik Asli Nuryadin tertanggal 8 Juli 2020. Bahwa BDR kembali diterapkan untuk seluruh siswa PAUD, TK, SD, dan SMP se-Samarinda. Dimulai 13 Juli lalu.
“Nah, dari Disdik itu imbauannya macam-macam. Boleh gunakan video call, aplikasi Zoom Meeting atau Google Meeting, termasuk video pembelajaran. Kami lebih pilih gunakan video pembelajaran, dibagikan ke WA grup kelas,” jelas guru yang karib disapa Sanah itu.
Video pembelajaran disepakati dengan pertimbangan kemampuan fasilitas orangtua murid. Diungkapkan juga jika tak semua guru akrab dengan teknologi video conference tersebut. Namun dijelaskan jika ada beberapa wali kelas yang menggunakan aplikasi video, namun tak sering.
“Misal wali kelas 5 itu ada yang pakai Zoom sesekali. Memang harus disiapkan dan disepakati, selain itu murid kelas 5 kan sudah agak ngerti dan bisa duduk diam dengar materi, beda dengan yang baru masuk SD,” ujar wali kelas 1 tersebut.
Tahun ajaran sebelumnya ada satu murid di kelas Sanah yang orangtuanya tidak memiliki handphone. Sehingga saat pembelajaran daring diterapkan, murid tersebut menumpang ke rumah temannya. Untungnya saat itu sudah dibentuk paguyuban kelas.
Berisi seluruh wali murid kelas yang dimaksud. Ada ketua paguyuban yang ditunjuk. Guru yang nantinya berinteraksi intens dengan ketua paguyuban. Lalu, ketua paguyuban menyebarkan informasi dari guru, termasuk membantu jika ada orangtua murid yang kesulitan terkait pembelajaran.
“Jadi corong informasinya ke ketua paguyuban. Jadi saya enggak harus jelasin satu-satu. Tapi tahun ajaran baru ini, belum ada paguyuban kelas. Agak susah dibentuk kalau enggak ketemu langsung. Alhamdulillah sih kelas yang saya ampu, semua wali muridnya punya WhatsApp,” jelas alumnus Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) FKIP Unmul itu.
Diungkapkan jika BDR kurang efektif. Terlebih, peserta didik yang dia tangani adalah murid baru. Bukan aspek pengetahuan yang lebih ditekankan. Kurang bisa memantau bagaimana perkembangan emosi dan sosial si anak. Padahal, di tingkat 1 itulah anak mulai dididik mengenai disiplin, moral, hingga agama.
Sanah mengaku banyak bersabar. Menjelaskan terperinci mengenai tugas. Diakui jika sudah dibuat sesederhana mungkin agar mudah dipahami. Tetap saja ada beberapa orangtua murid mengulang pertanyaan sama terus-menerus.
“Kalau saya lihat di lingkungan sini orangtuanya masih ada yang literasinya kurang, pemahamannya kurang. Kadang sampai geregetan sudah dijelaskan dengan sederhana tapi orangtua belum paham. Kalau dulu guru sabar dengan anaknya, sekarang sabar dengan orangtuanya,” ungkap dia saat ditemui di Kompleks Perumahan Korpri Loa Bakung.
Meski begitu, dia mengatakan, orangtua adalah kunci pembelajaran. Guru hanya memantau lewat laporan orangtua. Sehingga kesabaran wali murid sangat dibutuhkan, khususnya mendampingi siswa PAUD, TK, dan SD.
Kurangnya lagi, sebagian besar orangtua terlalu fokus pada target prestasi anak. Contohnya, tugas-tugas yang dikerjakan orangtua, terlihat jelas dari tulisan. Berulang kali Sanah mengimbau agar orangtua cukup mendampingi, bukan ikut menuliskan tugas.
Sebab itu, pada beberapa tugas dia meminta agar orangtua merekam kegiatan belajar anak. Misal mengeja, berhitung, menebak gambar dan lain-lain. Dari situlah Sanah berusaha menilai secara objektif. “Tapi ya kadang sulit juga, beberapa orangtua cuma kirim foto,” sebutnya.
Saat mengirim video, dia meminta murid mengenakan seragam. Jadwal mengirim video juga diminta sesuai dengan jadwal sekolah seperti biasa. Sebab, dia ingin tetap membangun kebiasaan bangun pagi seperti di sekolah, yang berbeda hanya kegiatannya di rumah. “Kecuali yang sudah izin kalau misal sore baru bisa,” ujarnya.
Dia mengatakan jika lebih memilih tatap muka. Lebih efektif. Selain itu jam kerja jelas, mulai pukul 7–10 pagi selesai mengajar. Beda dengan daring yang mesti standby. Banyak maklum.
“Kondisi orangtua beragam. Ada yang orangtuanya berangkat kerja pagi dan sore baru pulang, baru bisa dampingi belajar dan kirim tugas. Ada juga yang kehabisan kuota dan enggak bisa kirim tugas hari itu juga. Kadang jam 10 malam masih saja ada orangtua menghubungi,” keluh Sanah.
Kondisi tak semua mampu dalam hal teknologi dan kesiapan pemenuhan kuota internet yang jadi maklum bagi Sanah. Selain orangtua, kondisi itu berlaku untuk guru. Di sekolah negeri tempatnya mengajar juga belum ada kompensasi uang kuota yang dipakai.
“Ada saya dengar informasi jika orangtua yang membutuhkan termasuk guru akan ada diberi kuota gratis. Tapi sampai saat ini belum ada dari pihak sekolah menginformasikan,” jelasnya.
Jadwal hariannya dimulai setelah subuh, merancang materi video pembelajaran, kemudian mengirim absen ke grup. Lalu sekitar pukul 8 pagi, mulai bagi materi. Bahan ajar video pembelajaran dia unduh dari YouTube, kemudian diedit dengan ditambah lagu, dan teks lain.
Dia sadar bahwa anak usia SD masih fokus dengan visual, materi video juga disesuaikan dengan durasi pendek. Proses koreksi tugas dan evaluasi berlanjut hingga malam.
Penyesuaian di awal, mengedukasi orangtua yang dirasa cukup sulit. Seperti sistem absen yang diterapkan Sanah dengan Google Form. Orangtua banyak tak paham. “Beberapa guru yang kurang paham teknologi pakai absen manual, seperti sebut nama lengkap dan nomor absen di grup,” ujarnya.
ORANGTUA INGIN TATAP MUKA
Hal senada diungkapkan Kepala SMP Muhammadiyah 6 Samarinda Danas Miftahul Gisya. Namun, metode pembelajaran lebih variatif. Menggunakan aplikasi video conference, power point, hingga video pembelajaran. Khusus materi pelajaran yang menggunakan skill misal bahasa Inggris dan hafalan surah, guru menerapkan aplikasi video. Penyesuaian penyampaian bahan ajar tergantung materi pelajaran.
Dia juga meminta guru tetap turun seperti biasa ke sekolah untuk mengajar daring. Sehingga terkadang ada guru yang melakukan video conference dengan papan tulis, menjelaskan rumus misal. Bagi siswa yang tak memiliki gadget, pihaknya menyediakan modul dan tugas dalam bentuk print out. Untuk kemudian diambil siswa tersebut ke sekolah. Termasuk mengoordinasikan lokasi si anak dengan temannya yang bisa berbagi tugas.
Sebenarnya pihak mereka sudah memiliki tiga opsi terkait metode pembelajaran selama pandemi. Pertama yakni sistem daring, murid belajar di rumah masing-masing. Lalu kedua memberlakukan absen ganjil genap.
“Jadi misal absen ganjil hari Senin masuk, absen genap Selasa masuk. Lalu terakhir, guru-guru kami yang mengunjungi murid. Ada dua cara lagi, murid dikumpulkan di satu rumah 5–6 orang, atau satu hari itu guru mendatangi 5–6 siswa,” ungkap Danas.
Opsi kedua sudah cukup matang diperhitungkan saat rapat bersama seluruh guru. Sudah diterapkan juga dengan metode pembelajaran yang pas dan tentunya dengan protokol kesehatan.
Hal itu juga diungkapkan Danas menjadi salah satu saran orangtua. Agar anaknya bisa sekolah reguler seperti biasa. Sebab dikeluhkan jika kondisi orangtua yakni memiliki lebih satu anak yang semuanya bersekolah.
“Tapi edaran dari Disdik melarang adanya tatap muka, sehingga kami belum bisa mengakomodasi keinginan orangtua. Sebab, laporan yang masuk seperti handphone yang dipakai untuk mengajar adiknya dulu pagi, baru bergantian. Jadi keteteran dampingi anak belajar,” ucapnya.
Meski ada jadwal mulai pukul 08.30–12.00 Wita kegiatan belajar daring, Danas mengatakan jika masih ada beberapa kelonggaran. Khususnya bagi murid yang orangtuanya tidak bisa mendampingi atau handphone masih dipakai.
“Untuk paket data, alhamdulillah dari sekolah ada untuk guru disediakan. Dari Disdik juga ada imbauan mengenai penggunaan dana bantuan operasional sekolah nasional (bosnas) itu bisa fleksibel. Alokasi dana itu yang bisa kita tambah untuk kuota internet guru,” ujarnya.
Dikatakan jika pembelajaran daring hanya maksimal 40 persen dibanding tatap muka. Menyadari itu, Danas lebih memaksimalkannya lagi dengan membuat laporan kinerja guru. Dia tak ingin ada guru yang asal mengajar.
“Kadang ada saja orangtua yang bilang kalau guru kerjanya santai, tinggal share atau bagi materi, makan gaji buta. Kan banyak yang komentar begitu. Makanya dievaluasi dari laporan yang dibuat guru harian dan dilaporkan dua minggu sekali, kami pihak sekolah yang memantau. Benar enggak nih gurunya mengajar begini, dikonfirmasi juga ke murid terkait bagaimana metode belajar gurunya,” tutup Danas. (rdm/ndu/k8)
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

