
PARIS- Kabar duka datang dari dunia mode. Desainer Prancis-Jepang Kenzo Takada tutup usia pada Minggu (4/10). Dalam pernyataan resmi, pihak keluarga menyatakan bahwa pendiri label luxurious Kenzo itu berpulang lantaran komplikasi Covid-19. Dia meninggal saat dirawat di rumah sakit Amerika di Neuilly-sur-Seine, dekat Paris, pada usia 81 tahun.
Rumah mode Kenzo mengumumkan kabar duka itu via Instagram. ”Diliputi kesedihan mendalam, Kenzo menyatakan pendiri kami telah berpulang… Selama separo abad, Takada telah menjadi sosok ikonik di industri fashion,” ungkap perwakilan rumah mode itu.
Kenangan akan sosok Takada diungkap Felipe Oliveira Baptista, desainer utama Kenzo. ”Energi, kebaikan, talenta, serta senyumnya luar biasa menular. Semangatnya akan selalu hidup,” paparnya sebagaimana dikutip Hollywood Reporter.
Sebagai desainer, Takada dikenal lewat warna-warna bold dan tabrak motif. Dia banyak terinspirasi dari pengalamannya menjelajah dunia. Takada merintis karirnya sebagai perancang busana dari nol. Lahir di Himeji, sebuah kota dekat Osaka, pada 1939, Takada memutuskan pindah ke Paris pada 1965 meski saat itu menghadapi kesulitan berbahasa Prancis. Dibesarkan di keluarga hotelier, Takada lebih tertarik ke dunia fashion gara-gara sering membaca majalah koleksi kakaknya. Dia kuliah di Bunka College of Fashion, Tokyo, sebelum berangkat ke Paris.
Di Paris, mulanya Takada menjual desainnya ke sejumlah rumah busana. Hingga kemudian, dia memiliki toko kecil yang bernama Jungle Jap. ”Saya mendekorasi toko itu dengan sedikit uang,” katanya dalam wawancara terakhir dengan South China Morning Post. ”Salah satu gambaran pertama yang saya lihat di Paris dan membuat jatuh cinta adalah lukisan hutan dan itulah yang menjadi inspirasi toko itu,” imbuhnya.
Desain Takada sangat dipengaruhi nuansa Jepang. Dia mengaku tak mau mengikuti tren desain Prancis. Loncatan karir terbesarnya terjadi pada 1971 ketika majalah fashion Elle memajang salah satu busananya di cover. Berlanjut dengan editor majalah itu menghadiri fashion show-nya.
Takada saat itu masih mengusung label Jap. Begitu masuk pasar AS, label itu memunculkan kontroversi karena merupakan salah satu kata ofensif. Secara negatif Jap merujuk pada etnis Jepang yang menjadi minoritas di sebuah negara. ”Saya tahu itu, tapi saya pikir ketika melakukan hal bagus, maknanya bisa berubah,” ujarnya dalam wawancara dengan New York Times pada 1972.
Meski memiliki keyakinan begitu, Takada akhirnya membuat keputusan untuk menamai ulang brand-nya. Dia mengambil nama depannya dan sejak itulah Kenzo lahir. Brand tersebut terus berkibar dan pada 1983 melahirkan lini busana pria, diikuti Kenzo Jeans dan Kenzo Jungle. Lalu, dia merilis kacamata dan parfum.
Di puncak kesuksesan, Takada menjual Kenzo ke LVMH pada 1993. ”Itu adalah masa-masa terberat dalam hidup. Partner hidup saya Xavier meninggal dan partner bisnis saya terkena stroke. Maka saya memutuskan menjual Kenzo. Saya merasa tidak bisa menjalankan sendiri,” ujarnya.
Takada bertahan selama beberapa tahun di label itu sebelum memutuskan pensiun dari dunia fashion pada 1999, tepat di usia 60 tahun. Kreativitasnya lalu disalurkan dengan menjadi desainer kostum untuk pertunjukan opera dan melukis. ”Dengan lebih dari 8 ribu desain yang dihasilkan, dia tidak pernah berhenti merayakan fashion seni kehidupan,” kata juru bicaranya.
Wali Kota Paris Anne Hidalgo menyampaikan penghormatan terakhir lewat Twitter. ”Desainer dengan bakat yang luar biasa besar, dia telah memberikan warna dan cahaya dalam fashion. Paris berduka kehilangan salah seorang putra terbaik,” cuit Hidalgo. (fam/c12/ayi)
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

