Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Bangga Karya Sampai Amerika

i
Penulis: izak-Indra Zakaria❯
Junius Andria
Junius Andria

Budaya membaca buku semakin berkurang. Jangankan untuk membeli, yang gratisan saja kebanyakan tidak tergugah. Ponsel pintar sepertinya lebih “disembah”.


Advertisement

 

MEMBACA buku kini bak jadi hal asing, termasuk di Kutai Timur (Kutim). Persentase minat membaca buku di kabupaten hanya 0,0001 persen. Begitu data yang pernah disampaikan Dinas Perpustakaan dan Arsip Kutim.

Namun, tidak untuk Junius Andria, karena dia bagian dari 0,0001 persen itu. Junius atau lebih karib disapa Jo, memang seperti nama lelaki yang garang, tapi berbanding terbalik dengan sifat lembutnya. Dia sangat mencintai buku sejak kecil. Dia bahkan rela membeli banyak buku series hanya untuk membaca dan referensi menulis. "Saya mulai suka menulis sejak SMP, kemudian semakin giat setelah masuk di forum kepenulisan di Sangatta, Forum Lingkar Pena. Saya launching buku antologi pertama berjudul ‘Sangatta Sangat Banyak Cerita’ bersama teman-teman komunitas FLP 2009 silam. Saat itu masih SMK, dan buku tersebut saya tulis beramai-ramai dengan para ibu rumah tangga yang menjadi peserta aktif di FLP," terangnya saat diwawancarai.

Advertisement

Banyak perjuangan yang dilakukan Jo untuk menularkan minat baca. Gadis alumnus Universitas Mulawarman (Unmul) itu kembali mengabdi di daerah dengan mendirikan salah satu wadah untuk menarik kaum milenial agar gemar membaca dan menulis.

Kampus Cerita, begitu nama wadah yang dia sendiri menjadi founder di dalamnya. Menurut perempuan kelahiran Surabaya 07 Juni 1991 itu, perjuangan harus dilakukan sejak masih muda. Minimal generasi mendatang masih ada yang tertular dan berminat untuk melestarikan budaya baca.

"Saya migrasi ke Sangatta 2006. Kegiatan saya sehari-hari sebagai seorang pustakawati di salah satu sekolah swasta Sangatta. Setiap akhir pekan jadi mentor menulis di salah satu platform pembelajaran daring yang dikhususkan untuk anak-anak Indonesia. Selain itu, saya seorang founder yang merangkap sebagai rektor di Kampus Cerita," tuturnya.

Advertisement

Berangkat dari kegemarannya menulis dan membaca, membuatnya terpilih menjadi duta baca. Duta yang berbeda dari kebanyakan. Tidak santer didengar, namun tujuannya tetap menjadi lentera aksara.

Selain buku pertamanya, dirinya telah melahirkan sejumlah karya lain. Pada 2010, menulis buku antologi berjudul Surga Pelangi yang digagas FLP dan organisasi kepemudaan di Sangatta. Semua penjualan buku itu didonasikan untuk bencana kemanusiaan di Palestina. Kemudian 2011–2015, dia lebih aktif menulis resensi buku dan cerpen di media massa lokal seperti Kaltim Post, Bontang Post atau platform berita online. 

Di 2016, Jo kembali tergabung ikut dalam pembuatan buku Asyiknya Menjadi Guru, buku antologi yang ditulis secara feature. Termasuk buku Selaksa Cinta Untuk Jakarta. "Pada 2017 saya memberanikan diri untuk menerbitkan karya indie pertama, novel romantika berjudul Replay dan sebuah buku kumpulan puisi yang saya tulis selama 30 hari, berjudul Euforia Kehilangan. Di tahun itu pula ikut project menulis buku Warna dari komunitas Akar Pakis," terangnya.

Pada 2019, dia kembali meluncurkan buku lokal internasional berjudul Sweet and Bitter Memory. Ia tulis dalam bahasa Inggris. Serta diedit langsung oleh Darby Jones, yang saat itu menjadi fellow AMINEF.

"Buku itu cukup berkesan. Selain karena proses yang tidak mudah, sempat dijual secara internasional di website Amazon, dan 15 eksemplar dari buku itu sudah menjelajah hingga USA. Tidak ketinggalan di buku itu pula memperkenalkan Kutim, terutama Sangatta ke mata dunia," tegasnya.

Sebab, dalam karyanya itu mencantumkan foto-foto Sangatta yang sempat diabadikan dengan kamera pribadi. "Doakan tahun ini bisa mengeluarkan buku lagi," kuncinya. (*/la/dra/k16)

Advertisement
Editor : izak-Indra Zakaria
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
ProkalIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer