Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Jendela dan Pena, Jadi Pelepas Kangen dan Berkarya

i
Penulis: izak-Indra Zakaria❯
SELALU MENIKMATI: Tiga personel Jendela dan Pena memanjakan telinga pendengarnya saat menghibur lewat lagu-lagu terbaiknya.
SELALU MENIKMATI: Tiga personel Jendela dan Pena memanjakan telinga pendengarnya saat menghibur lewat lagu-lagu terbaiknya.

Serpihan Angin Senja


Advertisement

Bersamamu Kala Itu

Bunga dan Bunga Menari

Kuajak Kau Duduk

Advertisement

Bersandar Mesra.

 

BEGITULAH sepenggal lirik lagu Serpihan dari Jendela dan Pena. Band yang digawangi Rudini, Guska Vhandra, dan Rusbindranata terbilang anti-mainstream.

Advertisement

Tidak seperti grup pada umumnya yang dilengkapi dengan drum dan bass. Tiga pemuda asli Kota Tepian itu hanya menggunakan gitar dan biola untuk melantunkan lagu-lagunya.

Mengusung genre folk ballad, Jendela dan Pena berhasil mencuri daya tarik penikmat musik. Syair lagu yang puitis, ditambah petikan gitar dan suara gesekan biola yang merdu, membuat pendengarnya larut dengan lantunan lagu-lagu mereka.

Berawal dari rasa kangen untuk bermain musik bersama semasa masa kuliah dan masih aktif dalam unit kegiatan mahasiswa (UKM) Teater Yupa, ketiga alumnus Universitas Mulawarman (Unmul) itu membentuk Jendela dan Pena. Nama grup musik yang diambil bermakna tentang rumah dan sastra.

"Ibaratnya jendela itu rumah, dan pena itu seperti sambil sastra. Jadi, jendela dan pena itu sebagai rumah kami melepas kangen dan berkarya lah," terang Rudini, vokalis Jendela dan Pena saat ditemui di salah satu kantin Unmul favoritnya. Berdiri sejak 2016, Jendela dan Pena telah menghasilkan tujuh lagu. Keenam karyanya terbungkus dalam mini album bertajuk Alenia Pertama. Bisa dinikmati di platform digital.

Sebagian besar lagunya sebenarnya telah lama tercipta. Bahkan sebelum Jendela dan Pena terbentuk. "Kami dulunya sudah bermusik sewaktu di teater. Lagunya yang dibawakan juga lagu ciptaan yang lama, sebelum Jendela dan Pena terbentuk. Contohnya Serpihan dan Senyum yang Kurindu, yang kami angkat jadi mini," jelasnya.

Lagu yang diciptakan juga lebih banyak terinspirasi dari naskah dan pertunjukan teater. Noer berjudul Kasir Kita. Ada juga membawakan musikalisasi puisi Korrie Layun Rampan, sastrawan Kaltim.

Meski wabah Covid-19 membuat Jendela dan Pena jarang manggung, ketiganya tak patah semangat. Ketiganya tetap menghasilkan karya terbaru. Agustus lalu, Jendela dan Pena kembali merilis single terbaru berjudul Tentang Esok. Lagu yang mengisahkan tentang bertahan hidup di masa sulit.

"Lama juga sih enggak manggung. Tapi kami ada lagu baru. Sebenarnya lagu ini buat pandemi sih. Inspirasinya juga kondisi sekarang. Untuk mengingat lagi siapa kita dan sebagai semangat serta doa," terang Vhaud tentang lagunya.

Sembari menunggu masa pandemi berakhir, ketiganya juga memiliki project ke depan. Sebuah karya akan kembali terlahir. Lagu yang masih dirahasiakan jadwal perilisannya itu akan mengusung tentang lingkungan di Kaltim. Terkhusus buat para mendiang korban lubang tambang. Karya itu juga sebagai bentuk dukungan dan ikut serta menyuarakan perjuangan untuk menuntut keadilan. "Karena pandemi, project itu juga agak terhambat. Namun, masih pelan-pelan ngerjain juga," kuncinya. (*/dad/dra/k16)

 

Advertisement
Editor : izak-Indra Zakaria
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
ProkalIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Onay Sajah Rilis “Beratnya Setengah Mati”, Lagu Tentang Perjuangan Hidup yang Menyentuh Hati

Onay Sajah Rilis “Beratnya Setengah Mati”, Lagu Tentang Perjuangan Hidup yang Menyentuh Hati

Musisi asal Balikpapan, Onay Sajah, kembali menyapa penikmat musik Indonesia melalui single terbarunya berjudul “Beratnya Setengah Mati”. Lagu yang resmi dirilis pada 3 Mei 2026 ini mengangkat kisah p

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer