
KALTIM di tengah pandemi masih harus melawan malaria. Saat ini dari kabupaten/kota di Kaltim, kasus malaria paling tinggi ada di Penajam Paser Utara (PPU). Padahal di kabupaten itu bakal jadi lokasi ibu kota negara.
Kepala Dinas Kesehatan (Diskes) Kaltim Padillah Mante Runa mengatakan, pihaknya sudah melakukan koordinasi dan berusaha agar malaria di daerah tersebut bisa ditekan. Penyebab tingginya angka malaria di kabupaten tersebut karena daerah itu banyak perambah hutan yang melakukan kegiatannya pada malam hari.
“Sedangkan kasus malaria masih ada dan biasanya nyamuk malaria atau nyamuk anopheles itu menggigit pada malam hari. Nah, perambah hutan kerjanya kan malam,” katanya.
Sebenarnya pencegahan bisa dilakukan dengan seperti menguras bak mandi, menutup atau mengubur barang-barang bekas, serta membersihkan lingkungan. Namun, ada hal lain yang perlu dilakukan masyarakat, khususnya di daerah yang masih terdapat kasus malaria yaitu menghindari gigitan nyamuk.
Selain obat nyamuk, mereka juga mesti tidur dengan menggunakan kelambu. Nyamuk ini disebut Padillah biasanya menginfeksi atau menggigit manusia saat malam, sehingga ketika manusianya tidur dengan kelambu, nyamuk tidak bisa menggigit.
Lebih lanjut, dia menjelaskan mengapa PPU justru kasus malarianya tinggi dibandingkan daerah lain seperti Kutai Barat atau Mahakam Ulu yang notabene juga sama-sama memiliki hutan yang banyak. Pasalnya, di kawasan tersebut masih ada masyarakat yang memiliki penyakit malaria.
Sementara penyakit itu mudah menular ketika nyamuk satu menggigit orang yang terinfeksi malaria lalu menggigit orang lain dan menyebarkannya. Jadi, ketika di suatu daerah terdapat beberapa penderita malaria dan masyarakat lain di daerah tersebut tidak melakukan pencegahan secara baik, malaria akan mudah disebarkan di daerah itu.
Pemerintah menargetkan 2024 bisa nol malaria. Adapun dari data Kaltim Dalam Angka 2020 yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim, provinsi ini masih memiliki kasus malaria sebanyak 6.025.
Menangani malaria disebut Padillah harus kerja sama lintas sektor. Misal, melibatkan bupati dan camat. Selain itu, kerja sama dengan polisi hutan untuk mengawasi hutan. Sebab, banyak kasus berasal dari para perambah hutan. Sementara para perambah hutan itu tak sedikit yang berasal dari luar PPU.
Pada November 2020 lalu, pemerintah juga telah membagikan 15 ribu kelambu ke masyarakat di sekitar area endemis. Pembagian kelambu itu terbagi di lima puskesmas yang menjadi wilayah lokasi endemis yaitu Puskesmas Sotek, Puskesmas Sepaku I, Puskemas Sepaku III, Puskesmas Semoi II, dan Puskesmas Maridan di PPU. Sedangkan, desa atau kelurahan yang menjadi kategori wilayah endemis yang cukup tinggi yakni Desa Bukit Subur, Desa Bumi Harapan, Desa Tengin Baru, dan Kelurahan Mentawir.
Adapun kasus malaria di Indonesia mengalami penurunan. Pada 2010, kasus positif malaria di Indonesia mencapai 465,7 ribu. Sementara pada 2020 kasus positif malaria menurun menjadi 235,7 ribu. Tak hanya itu, penurunan kasus malaria juga diikuti dengan penurunan Annual Parasite Incidence (API) yang pada 2010 mencapai 1,96 dan 2020 mencapai 0,87.
Plt Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Kementerian Kesehatan, Maxi Rein Rondonuwu mengatakan, di Indonesia tampak ada kecenderungan penurunan yang bermakna dari jumlah kasus positif malaria dan API yang dilaporkan 2010-2020.
“Namun, penurunan ini cenderung stagnan pada 2014–2019. Namun, secara keseluruhan terjadi penurunan kasus malaria di hampir seluruh provinsi di Indonesia tahun 2015–2020,” kata Maxi.
Di sisi lain, jumlah wilayah di Indonesia yang berhasil melakukan eliminasi malaria bertambah. Pada 2019 kabupaten/kota yang berhasil mengeliminasi malaria sebanyak 300, tahun 2020 bertambah menjadi 318.
Berdasarkan capaian endemisitas per provinsi tahun 2020 terdapat tiga provinsi yang telah mencapai 100 persen eliminasi malaria, antara lain DKI Jakarta, Jawa Timur, dan Bali. Sementara provinsi dengan wilayahnya yang belum mencapai eliminasi malaria yakni Maluku, Papua, dan Papua Barat.
Tahun 2020 masih ada 23 kabupaten/kota yang endemis malarianya masih tinggi, 21 kabupaten/kota endemis sedang, dan 152 kabupaten/kota endemis rendah.
Banyak upaya yang dilakukan dalam mencapai eliminasi malaria, antara lain dengan advokasi antarkepala daerah baik bupati maupun wali kota dengan gubernur. Pencegahan malaria dilakukan dengan membagikan kelambu dan dilakukan pemantauan penggunaannya.
Pemerintah juga menyediakan obat antimalaria dan perluasan penemuan dini malaria, meningkatkan kapasitas sumber daya manusia (SDM) kesehatan, dan kerja sama lintas program serta organisasi profesi.
Untuk mencapai Indonesia Bebas Malaria 2030 atau Eliminasi Malaria Nasional, pemerintah pada 2021 menargetkan 345 kabupaten/kota yang mencapai eliminasi malaria. Untuk mencapai target itu, perlu dilakukan intensifikasi pelaksanaan penanggulangan malaria secara terpadu dan menyeluruh.
Pencapaian Indonesia Bebas Malaria 2030 didahului dengan pencapaian daerah bebas malaria tingkat provinsi dan sebelum itu seluruh kabupaten/kota di Indonesia harus sudah mencapai bebas malaria.
“Dewasa ini, sebagian besar kabupaten/kota di wilayah Jawa–Bali telah mencapai eliminasi malaria. Dalam mencapai bebas malaria tahun 2030, Indonesia dibagi menjadi lima regional dan regional Jawa-Bali adalah regional pertama yang ditargetkan untuk diverifikasi status eliminasi malarianya oleh WHO pada 2023,” sambung Maxi.
Hingga kini masih ada beberapa tantangan yang dihadapi. Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonosis Kemenkes Didik Budijanto mengatakan, beberapa tantangan yang menjadi perhatian adalah bagaimana menurunkan penemuan kasus malaria aktif atau pasif.
Ia menjelaskan upaya yang dilakukan untuk mengatasi tantangan tersebut yakni melalui pemeriksaan malaria dengan menggunakan tes diagnostik cepat (RDT), distribusi kelambu, dan peningkatan kapasitas SDM kesehatan.
“Tak hanya itu, ada beberapa daerah endemis yang masyarakatnya menganggap bahwa malaria adalah penyakit yang biasa. Sehingga menyebabkan kurang perhatian dari masyarakat. Itu memberikan kami suatu informasi kepada masyarakat bahwa meski malaria ini bisa dicegah dan diobati, tetapi juga bisa menyebabkan kematian. Maka konsep bagaimana mencegah agar penyakit ini tidak menginfeksi masyarakat menjadi tantangan tersendiri,” katanya. (rom/k16)
Apa Itu Malaria?
Penyakit infeksi menular yang menyebar melalui gigitan nyamuk. Penderita malaria akan mengeluhkan gejala demam dan menggigil.
Gejala Malaria
• Gejala muncul setidaknya 10-15 hari setelah digigit nyamuk
• Menggigil, yang dapat berkisar dari sedang hingga parah
• Demam tinggi
• Banyak berkeringat
• Sakit kepala
• Mual
• Muntah-muntah
• Sakit perut
• Diare
• Anemia
• Nyeri otot
• Kejang
• Koma
• Tinja berdarah
Penyebab Malaria
• Manusia bisa terkena malaria setelah digigit nyamuk yang terdapat parasit malaria di dalam tubuh nyamuk.
• Gigitan nyamuk tersebut menyebabkan parasit masuk ke tubuh manusia. Parasit itu akan menetap di organ hati sebelum siap menyerang sel darah merah.
• Parasit malaria itu bernama Plasmodium. Jenis Plasmodium bermacam-macam, dan akan berpengaruh terhadap gejala yang ditimbulkan serta pengobatannya.
Diagnosis Malaria
• Bila seseorang mengalami gejala malaria, dokter akan menanyakan apakah ia tinggal atau baru saja bepergian ke daerah yang banyak kasus malaria. Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan darah.
• Pemeriksaan darah untuk mendiagnosa malaria meliputi tes diagnostik cepat malaria (rapid diagnostic test malaria) dan pemeriksaan darah penderita di bawah mikroskop.
• Tujuan pemeriksaan darah di bawah mikroskop adalah untuk mendeteksi parasit penyebab malaria dan mengetahui jenis malarianya.
• Perlu diketahui, pengambilan sampel darah bisa dilakukan lebih dari sekali dan menunggu waktu demam muncul.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


