Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Beri Contoh untuk Bangga Angkat Budaya

i
Penulis: izak-Indra Zakaria❯
Photo
Photo

SEMENJAK pandemi, pemasaran via media sosial begitu terasa bagi Ahmad dengan usahanya Makkita Wood Art. Menjual produk ukiran kayu dengan motif khas Dayak. Pembelinya kini berasal dari berbagai daerah.


Advertisement

“Ke Tangerang itu termasuk sering. Kayak tempat kartu nama, perisai juga,” jelasnya. Produk yang dia buat berdasarkan pesanan. Disesuaikan jenis motif yang dimau, ukuran hingga termasuk jenis kayu.

Bicara Bangga Buatan Indonesia, secara jujur diakui Ahmad tak terlalu berdampak. Seharusnya, pemerintah yang membuat kebijakan dapat memberi contoh. “Usaha saya kan ukiran kayu. Kalau maunya Bangga Buatan Indonesia, ya dari mereka (pemerintah) dulu yang memberi contoh. Misal di kantornya ada ukiran kayu khas, atau ada meja ukir,” ungkapnya.

Termasuk salah satu seni kerajinan etnik asli Kalimantan, dia ingin setidaknya setara dengan kerajinan lain di Samarinda. Misal sarung samarinda atau kerajinan manik-manik.

Advertisement

Memang jumlahnya tidak sebanyak perajin lainnya. Namun dia ingin mengenalkan jika Samarinda juga memiliki perajin ukir kayu dengan karya yang tentu punya kualitas. Umumnya mereka yang memiliki nilai estetika tinggi yang memesan karyanya.

Selain itu, image kerajinan ukiran kayu yang dikenal mahal dan berat membuat pembeli seperti menjauh duluan. “Kalau dari kami perajin, harga tentu worth it dengan hasil. Ini manual, mahal tapi enggak kemahalan. Sesuai. Nah, waktu di toko harganya bisa dua sampai tiga kali lipat, itu yang buat usaha saya juga akhirnya kurang dikenal,” lanjut dia.

Oleh sebab itu, harapannya untuk membuat galeri pribadi semakin tinggi. Sehingga masyarakat bisa melihat langsung dan membeli dari perajin. Juga menjadikan ukir kayu sebagai bagian dari kerajinan khas, identitas budaya.

Advertisement

Media promosi yang dia gunakan saat ini masih sebatas Instagram. Calon pembeli bisa melihat langsung hasil karyanya. Terbatas tenaga kerja, serta pengerjaan manual, tentu barang yang dipesan melalui proses pre-order.

“Ada sih diajak pameran, tapi menurut saya kurang dapat. Produk kita ini besar. Jadi ya memang harapannya pengin lebih diperhatikan lagi. Misal gerakan Bangga Buatan Indonesia, setidaknya dari mereka memberi contoh dulu dengan pakai produk dari saya. Contoh saja Lamin Etam (Kantor Gubernur) itu sudah enggak ada lagi ukirannya,” ujar Ahmad.

Justru pembelinya, sedikit banyak berasal dari luar daerah. Yang terpesona dengan keindahan ukiran kayu yang lahir dari tangan Ahmad. Proses pengerjaan ukiran yang tak sebentar, membuatnya mesti atur waktu ketika pesanan lain datang dan estimasi selesai. (rdm)

Advertisement
Editor : izak-Indra Zakaria
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
ProkalIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Geliat Investasi di Gerbang IKN: Jumlah Investor Pasar Modal Kaltimtara Melesat 61 Persen

Geliat Investasi di Gerbang IKN: Jumlah Investor Pasar Modal Kaltimtara Melesat 61 Persen

Geliat Investasi di Gerbang IKN: Jumlah Investor Pasar Modal Kaltimtara Melesat 61 Persen SAMARINDA – Minat masyarakat di wilayah Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara (Kaltimtara) untuk terjun ke du

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer