Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Dipicu Terlalu Lama di Depan Gadget, Waspadai Sindrom Mata Kering

i
Penulis: izak-Indra Zakaria❯
BERI JEDA: Pemakaian gadget memicu meningkatnya kasus sindrom mata kering, yaitu penurunan fungsi air mata untuk melumasi mata. (Ilustrasi diperagakan Cahya - Dipta Wahyu/Jawa Pos)
BERI JEDA: Pemakaian gadget memicu meningkatnya kasus sindrom mata kering, yaitu penurunan fungsi air mata untuk melumasi mata. (Ilustrasi diperagakan Cahya - Dipta Wahyu/Jawa Pos)

Sejak virus korona menyeruak dan menjadi sebuah pandemi, banyak kebiasaan dan rutinitas yang berubah. Salah satu yang paling kentara adalah beralihnya mode luring ke mode daring. Segalanya serba dilakukan lewat gadget. Alhasil, kesehatan mata menjadi taruhannya.


Advertisement

—

AKTIVITAS di depan layar ponsel maupun layar laptop atau komputer selama berjam-jam tidak bisa lagi dihindari, terutama saat harus work from home (WFH). Tak jarang, pekerja yang melakoni WFH harus bergumul seharian dengan gadgetnya. Mengetik, membuat slide presentasi, mengikuti rapat dan webinar, hingga mengirimkan tugas dan tanggung jawab lewat e-mail.

Di balik itu semua, ada mata yang sejatinya lelah. Karena terus-menerus terpapar radiasi. Keluhan sindrom mata kering pun mengintai tanpa kenal waktu.

Advertisement

Salah seorang dokter spesialis mata di Rumah Sakit Mata Undaan (RSMU) Surabaya dr Kitriastuti SpM mengatakan, banyaknya pemakaian gadget memicu meningkatnya kasus sindrom mata kering. Yaitu, penurunan fungsi air mata untuk melumasi mata.

”Laptop dan handphone dipakai untuk sekolah, kerja, dan rasanya untuk semua keperluan. Akhirnya terjadi paparan radiasi yang membuat refleks kedip menurun. Sebagian besar saat ini keluhannya memang karena terpapar radiasi gadget. Banyak yang mengeluhkan, ’ya gimana dok, dari pagi sampai malam saya meeting’,” ujarnya.

Kitriastuti menjelaskan, paparan radiasi yang berlebih menimbulkan refleks kedip mata menurun, yang semula dalam satu menit bisa 10–15 kedipan menurun di bawah 10 kedipan. Bagian wiper mata kurang melumasi mata. Hal itu karena mata terlalu lama melihat dekat lebih dari waktu yang disarankan. Karena itu, diperlukan jeda demi mengistirahatkan mata supaya tidak terlalu ngoyo dan lelah.

Advertisement

”Perubahan zaman membuat kita harus duduk manis di depan laptop dan itu nggak mungkin dihindari, harus beradaptasi. Tapi, mata kering tetap bisa diantisipasi. Salah satunya dengan rule 20-20-20 dari WHO. Yakni, dalam bekerja 20 menit, berikan istirahat pada mata 20 detik untuk melihat sejauh 20 feet atau 6 meter. Cara itu sebetulnya untuk mengurangi mata minus, tapi juga bisa dilakukan untuk mengantisipasi terjadinya mata kering,” papar alumnus spesialis mata Unair itu.

Dia mengungkapkan, sebagian besar keluhan penderita adalah mata terasa pedih atau perih saat bangun tidur atau pada saat di depan layar. Bisa juga terasa seperti berpasir atau ngganjel seperti orang kelilipan. Tidak jarang mata penderita sampai memerah. Saat kondisi itu terjadi, penderita bisa melakukan pertolongan pertama. Yakni, membeli obat tetes mata di apotek yang berlogo biru atau hijau.

”Jangan sampai diobati dengan obat tetes berlogo merah karena harus dengan pengawasan dokter. Ada kasus pasien mengobati dengan obat tetes mata berlogo merah. Lalu, datang ke dokter mata dalam keadaan sudah ada komplikasi pada matanya dan sudah parah. Karena salah pengobatan di awal bisa menimbulkan masalah baru dan membuat penanganan lebih sulit,” ungkapnya.  

– Keluhan meningkat selama pandemi akibat paparan radiasi gadget.

– Keluhan paling sering mata pedih, perih, berpasir (ngganjel) seperti kelilipan, hingga mata memerah.

– Buat jeda waktu 20-20-20 untuk mengistirahatkan mata di depan gadget.

– Penyebab lain sindrom mata kering bisa terjadi karena kelainan produksi air mata, konsumsi obat-obatan tertentu atau alergi obat, kualitas air mata yang sudah berubah, dsb.

– Pertolongan pertama beri obat tetes mata berlabel biru atau hijau, lalu segera bawa ke dokter mata.

– Nama lain penyakit mata kering

– adalah keratoconjunctivitis sicca.

– Banyak dialami wanita dibandingkan pria.

– Risiko keluhan makin meningkat pada usia lanjut.

– Pencegahan terjadinya mata kering

– Melindungi mata dengan kacamata bila berada di lingkungan berangin, panas, berasap, atau berdebu.

– Gunakan pelembab atau penyaring udara di dalam ruangan.

– Hindari penggunaan make-up berlebih pada mata.

– Berhenti merokok.

– Mengatur lama kerja di depan layar komputer.

– Menjaga kebersihan mata.

– Banyak mengonsumsi asam lemak omega-3. Seperti ikan makarel, tuna, sardine, atau salmon. (jpc)

 

 

Advertisement
Editor : izak-Indra Zakaria
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
ProkalIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

HUT ke-58, BPJS Kesehatan Ajak Masyarakat Budayakan Hidup Sehat lewat Health Fun Run

HUT ke-58, BPJS Kesehatan Ajak Masyarakat Budayakan Hidup Sehat lewat Health Fun Run

Ribuan peserta dari berbagai komunitas lari memadati kawasan Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, Minggu (28/6), dalam gelaran Health Fun Run yang diselenggarakan BPJS Kesehatan. Kegiatan ini menjadi bag

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer