Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Mengenali Tanda Disleksia Sejak Dini

i
Penulis: izak-Indra Zakaria❯
Photo
Photo

Si kecil sudah mulai banyak belajar saat usia balita. Namun, orangtua juga perlu memerhatikan ketika ia mengalami kondisi seperti kesulitan membaca. Bisa jadi hal itu dikarenakan anak mengalami disleksia.


Advertisement

Oleh : Siti Sulbiyah

Disleksia adalah salah satu jenis gangguan belajar yang membuat anak kesulitan untuk membaca, menulis, mengeja, atau berbicara dengan jelas. Umumnya ditemui sebagai kelainan yang timbul sejak lahir. Anak yang mengalami gangguan ini juga bukanlah anak bodoh atau malas. “Disleksia bisa terjadi ada anak-anak dengan IQ normal ataupun IQ yang tinggi,” ungkap dr. Rosyadi Akbari, SpA, dokter di RSUD Sultan Syarif Mohammad Alkadrie, saat live di Instagram miliknya belum lama ini.

Penyebab disleksia menurutnya terjadi karena beberapa faktor. Namun yang paling kuat adalah karena faktor genetik. Dia menilai, apabila seorang anak mengalami disleksia, kemungkinan besar diturunkan oleh orangtuanya.

Advertisement

Meski begitu, dia menegaskan bahwa disleksia bukanlah sebuah penyakit, namun merupakan sebuah kondisi gangguan atau kesulitan belajar spesifik, khususnya dalam hal berbahasa. “Prevalensinya 10-20 persen populasi. Sehingga dari 20 anak, ada 2-4 anak yang mengalami kesulitan spesifik atau disleksia,” katanya.

Anak dengan disleksia dapat segera diketahui tanda-tandanya apabila orangtua memperhatikan tumbuh kembang mereka. Dokter Rosyadi mengatakan, pada anak di bawah tiga tahun, tanda disleksia akan terlihat ketika anak sulit menyebut kata yang menyebabkannya terlambat berbicara serta lambat dalam mempelajari kata-kata baru. “Orang bilang kondisi ini sebagai speech delay,” katanya.

Untuk anak yang lebih besar ataupun pada usia sekolah, tanda itu terlihat pada kemampuan membaca dan menulis yang lambat, memiliki masalah dalam mengeja, ataupun terbalik dalam pengucapan kalimat. “Penggunaan kalimat tidak sesuai dengan susunan subjek, predikat, dan objek,” ungkapnya.

Advertisement

Selain itu, tanda yang terlihat pada anak yang mengalami disleksia adalah kesulitan membedakan bunyi huruf, serta membedakan penggunaan kata-kata tertentu yang punya kemiripan maksud. “Kadang menyebutkan sesuatu namun penggunaannya kurang tepat. Misal, maksudnya ingin bilang kata dalam, namun justru mengucapkannya kata tebal,” ucapnya.

Deteksi dini pada anak dapat mencegah dampak yang lebih buruk akibat disleksia. Menurut dokter Rosyadi, akan lebih baik jika anak dengan disleksia diketahui sebelum memasuki usia sebelum sekolah. Harapannya, semakin awal terdeteksi, penanggulannya bisa lebih cepat dilakukan.

“Apabila kita menemukan ada kesulitan dalam perkembangan bahasanya, bisa segera diperiksakan ke dokter anak untuk mengetahui apakah ada mengarah ke disleksia atau tidak. Kalau ternyata ada, penanganannya bisa melalui terapi. Tetapi, kalau anak kelas enam SD baru ketahuan (alami disleksia), sulit untuk memperbaiki potensinya,” pungkasnya. **

Advertisement
Editor : izak-Indra Zakaria
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
ProkalIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

HUT ke-58, BPJS Kesehatan Ajak Masyarakat Budayakan Hidup Sehat lewat Health Fun Run

HUT ke-58, BPJS Kesehatan Ajak Masyarakat Budayakan Hidup Sehat lewat Health Fun Run

Ribuan peserta dari berbagai komunitas lari memadati kawasan Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, Minggu (28/6), dalam gelaran Health Fun Run yang diselenggarakan BPJS Kesehatan. Kegiatan ini menjadi bag

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer