
Beberapa waktu lalu, nama Aliando Syarief sempat bertengger dalam deretan trending Twitter. Kemunculannya kembali ke publik bukan mengenai project barunya di industri perfilman atau musik. Tapi, pemeran Warkop DKI Reborn 3 itu justru membawa kabar bahwa dirinya mengidap Obsessive-compulsive disorder (OCD). Lantas, apa itu OCD? Yang jelas, itu bukan metode diet obsessive Corbuzier’s diet (OCD), ya. Berbeda.
MELALUI fitur live di Instagram, Ali –sapaan akrab dari Aliando Syarief– mengumumkan bahwa dirinya sedang berjuang untuk melawan OCD. Aktor muda yang namanya moncer lewat sinetron Ganteng-Ganteng Serigala itu mengungkapkan, OCD membuat dirinya sulit untuk fokus.
Ali merasakan hal yang berbeda dalam tubuhnya. Misalnya, ketika dia bermain di set, tiba-tiba di dalam pikirannya menyuruh dirinya untuk mengulang dialog atau adegan. Jika dia mengindahkan, dia berpikir bakal ada yang celaka.
Ternyata, aktor yang sempat dikabarkan memiliki hubungan spesial dengan Prilly Latuconsina tersebut pernah mengidap OCD saat dirinya berusia 2 tahun. OCD itu kembali menyapa dirinya kala usianya 25 tahun. Come back-nya Ali dengan kabar OCD mengukuhkan bahwa gangguan mental tidak mengenal latar belakang, profesi, hingga gender. Faktanya adalah gangguan mental bisa menyerang siapa saja. Tidak terkecuali figur publik.
Dokter Leonardi A. Goenawan SpKJ menuturkan, OCD adalah suatu gangguan yang cukup umum dan bersifat kronis. OCD membuat seseorang memiliki pikiran-pikiran (obsesi) yang sulit dikendalikan serta berulang dan atau perilaku (kompulsif) yang membuat seseorang merasa dipaksa untuk mengulang-ulang perbuatannya.
Lantas, apa ada gejala-gejala yang bisa diketahui? Dokter yang berpraktik di RS Pondok Indah –Puri Indah dan RS Pondok Indah– Bintaro Jaya itu menjelaskan, gejala yang dialami dapat mengganggu pada hampir semua aspek dalam kehidupan seseorang. Seperti pekerjaan, studi, dan hubungan personal. OCD gejala obsesi yang bisa dirasakan, misalnya, pikiran-pikiran atau citra mental yang berulang. Bahkan, dapat mengakibatkan kecemasan.
Juga takut dan merasa bertanggung jawab akan terjadi sesuatu yang mencelakai atau mengerikan pada orang lain (misalnya, kebakaran dan kematian), hingga keinginan untuk membuat/mengatur semua secara simetris/mengikuti aturan tertentu.
Tidak hanya gejala obsesi, ada gejala kompulsif. Pada gejala tersebut, seseorang akan berperilaku repetitive (berulang). Hal itu bakal dirasakan oleh penderita OCD sebagai desakan untuk memberikan respons terhadap pikiran obsesif.
Bentuk-bentuk perilaku yang umum ditemukan adalah membersihkan dan atau mencuci secara berlebihan, mengatur dan menyusun sesuatu dengan cara tertentu dan presisi, serta memeriksa sesuatu secara berulang-ulang. Contohnya, kunci pintu, kompor, hingga pengulangan seperti membaca tulisan di jalan/menghitung/menyentuh/ memegang, kompulsi mental.
SOME FACTS OCD
– Penderita OCD tidak mampu mengendalikan pikiran dan perbuatannya. Meskipun penderita sadar bahwa tindakan itu tidak masuk akal dan berlebihan.
– Penderita OCD tidak mendapat kesenangan saat melakukan kompulsi atau ritualnya, tapi hanya kelegaan singkat dari kecemasan yang ditimbulkan oleh pikiran obsesif.
– Mengalami masalah yang cukup bermakna pada kehidupan sehari-hari akibat obsesi dan/atau kompulsinya.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


