
KETIKA surat pemberitahuan perihal dirumahkan sementara diterima Luthfi Dian, pikirannya menjadi tak karuan. Ada istri dan dua anak yang mesti dia nafkahi setiap bulan. Sementara itu, surat tersebut memberitahu jika upah yang dia terima selama di rumah hanya 30 persen gaji.
“Itu saya terima setelah Lebaran 2020. Alhamdulillah THR dibayar full tahun itu, memang sudah terdengar isu bakal ada efisiensi di perusahaan karena imbas pandemi,” ujarnya.
Besaran upah 30 persen diakui Luthfi tak menutupi pengeluaran bulanan keluarga mereka. Ditambah ada cicilan kendaraan yang masih berjalan hingga 25 bulan ke depan.
Dia pun mencoba mencari tambahan dengan membantu mertua berjualan di toko. Selain itu, sang istri yang sebelumnya berprofesi guru, membuka kelas belajar di rumah mereka. “Karena kan pandemi sekolah jadi online, nah sekitar pertengahan tahun coba buka kelas di rumah. Alhamdulillah waktu itu beberapa tetangga percaya untuk titipkan anaknya belajar,” ungkap Rahayu, istri Luthfi.
Namun untungnya, sekitar Oktober 2020 perusahaan memanggil Luthfi bekerja kembali. “Karena saya kan kerja di perusahaan tambang, itu alhamdulillah sudah membaik sekitar akhir tahun. Jadi bisa kerja lagi, nah justru istri yang kewalahan karena muridnya semakin banyak,” kata Luthfi.
Diakui warga Palaran itu, jika Ramadan 2020 dan 2021 pos keuangan mereka cenderung meningkat. Kondisi pertambangan yang dinilainya cukup membaik, juga usaha istri yang naik.
“Bisa dibilang puasa 2020 dan 2021 kurang terasa ya suasananya, karena masih pandemi. Nah tahun ini yang saya rasa kayak mulai ada momennya. Buka puasa bersama, termasuk anak-anak baru saja kemarin sudah merengek minta baju baru,” jelasnya Kamis, (7/4) lalu.
Sebagai alumnus jurusan Ekonomi, Luthfi justru berperan sebagai pengatur keuangan di rumah tangganya. Membagi pos pengeluaran termasuk dengan adanya usaha bimbingan belajar sang istri dengan empat karyawan.
“Alhamdulillah tahun lalu bisa ngasih THR ke mereka (karyawan), full bahkan seminggu sebelum lebaran. Tahun lalu juga tetap rutin berbagi. Jadi saya ajarkan ke anak-anak, kalau mau beli baju baru, berarti baju yang ada di lemari harus dikeluarkan. Misal mau baju baru dua, ya dua baju juga disumbangkan. Saya sekeluarga juga begitu, termasuk ke istri dan saya sendiri juga sudah menerapkan itu sejak tiga tahun terakhir,” ungkapnya.
Dia merasa bahwa Ramadan 2022 kembali hidup kembali semenjak pandemi 2020 lalu. “Rasanya euforia begini terakhir 2019 itu. Dan syukurnya 2021 juga THR saya full dibayar perusahaan. Sedangkan kala itu ada edaran tentang upah THR yang dicicil,” jelasnya.
Luthfi menerapkan prinsip 50-30-20. Yakni 50 persen untuk kebutuhan pokok, 30 persen untuk pribadi, dan sisanya ditabung. Pembagian keuangan itu khusus hanya dari gajinya sebagai karyawan. Nah untuk pemasukan dari usaha istri, dia menerapkan pola berbeda.
“Sederhana ya, intinya pemasukan dikurangi dengan pengeluaran selama sebulan. Termasuk gaji karyawan. Tahun ini ada dua karyawan yang baru bergabung belum setahun, hitungan untuk THR juga berbeda tentunya sama yang sudah ikut istri setahun lebih. Keuntungan usaha itu juga jadi kesepakatan saya dan istri, untuk tabungan anak kami termasuk untuk uang darurat,” bebernya.
“Nah untuk uang THR yang saya terima, polanya mirip tapi dibalik. Jadi 50 persen untuk ditabung dan investasi, 30 persen tetap untuk kebutuhan pribadi dan 20 baru kebutuhan pokok. Jadi THR enggak full dihabiskan. Jadi polanya jangan berpikir dapat uang tambahan tapi malah habis untuk konsumtif,” pungkasnya. Dia berharap ekonomi semakin membaik, meski di tengah kondisi berbagai macam barang kebutuhan serba naik.
Raden Roro Mira
miraroro3@gmail.com
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

