Perihal kondisi di Batola, Dita mengaku sedih. Semakin sulit mencari pasangan penari laki-laki dari generasi yang lebih muda. Ini membuat regenerasi menjadi macet.
“Di sekolah minim penari cowok, di sanggar pun demikian,” ujarnya. Ini perkara pola pikir. Tarian dianggap tidak maskulin. Di kalangan pria, menjadi penari dicap tidak keren.
Padahal, menurutnya ada perbedaan yang sangat kentara. Gerakan tarian perempuan memang lembut, tapi gerakan tarian lelaki lebih tegas. “Untuk laki-laki, ada ciri gerakan tersendiri. Gagahnya lelaki saat menari, berbeda dengan perempuan,” tegasnya.
Di sanggar, Dita mengajar di dua kelas. Kelas A untuk kategori anak berumur 8-12 tahun dan kelas B untuk kategori remaja berumur 12 tahun sampai pemuda 25 tahun.
Setidaknya, Dita bersyukur, masih bisa menyiapkan calon-calon penari berikutnya. “Selain anak-anak yang bersemangat, orang tuanya juga sangat antusias,” tutupnya. Ini membesarkan hati Dita. (bar/gr/fud)


