Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Teroris Cocovid vs Poetha, Sederhana dan Kaya Warna

i
Penulis: izak-Indra Zakaria❯
Photo
Photo

(Chai Siswandi. Penulis/Budayawan)


Advertisement

Wah, senang sekali rasanya bisa membaca karya Radhwa ini. Selain menghibur, kumpulan Cerpen 'Teroris Cocovid VS Poetha' ini juga memberi pengalaman yang unik bagi saya, untuk memasuki alam pikir anak-anak yang sedang bertumbuh. Sambil senyum-senyum sendiri, kita bisa membaca cerita-cerita bagaimana anak seusia Radhwa melihat persoalan-persoalan hidup yang mulai tidak sederhana. Bagaimana kejadian sehari-hari di sekolah, di rumah, bermain bersama teman, kejadian aktual menjadi pengalaman hidup dari sudut pandang anak. Lantas menuliskannya dengan kreatif. Tidak semua anak lho, bisa menuliskan pengalamannya, perasaaan dan imajinasinya dalam tulisan.

Yang sedikit mengganjal adalah istilah-istilah dalam bahasa Inggris itu. Menurutku,  sebaiknya dikurangi. Beberapa tetap tidak masalah, namun beberapa dapat diubah saja menjadi bahasa Indonesia, menghindari kesan yang agak riweh.

Terlepas itu, kita menemukan kisah-kisah dengan alur sederhana, tapi kaya warna. Ada saudara yang punya sakit parah, singa, hantu dan rukyah, Jepang, alien dan astronot Rusia, serta istilah-istilah dalam bahasa asing.  Eh, tapi tidak ketinggalan tetap ada lho, bolu pecak, burongko, dan bau peapi.  Ada yang tradisional, tapi juga yang kekinian. Ada ngobrol sama nenek, tapi juga gaul bareng teman-teman yang asik.

Advertisement

Penting dari itu, saya kira pengenalan sastra bagi anak memiliki manfaat besar dalam pertumbuhan dan perkembangan diri anak di segala aspek mereka. Karya sastra maupun karya tulis yang baik, dapat membantu membentuk kepribadian serta menuntun kecerdasan emosional anak.
Syukurlah di kumpulan cerpen ini kita bisa menemukan yang khas dari anak-anak, yang mudah bertengkar, tapi mudah berbaikan kembali. Anak dirangsang untuk mengerti persoalan orang lain. Tidak menyimpan dendam dan mudah memaafkan.  Cerita yang menumbuhkan empati. Saya kira itu nilai paling penting dalam buku ini.

Melalui cerita-cerita, anak lebih mudah menerima nilai-nilai baik. Saya berharap besar, karya semacam ini dibaca lebih luas baik bagi orang tua, maupun pembaca seusia penulisnya. Dan membawa seribu kebaikan-kebaikan baru. Inilah,  karya ke-4 Radhwa 'Teroris Cocovid VS Poetha'. Selamat membaca! (**)

Advertisement
Editor : izak-Indra Zakaria
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
ProkalIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Balai Bahasa Kaltim Buka Sastraloka 2026, Merawat Sastra Tradisi lewat Tarsul dan Bedandeng

Balai Bahasa Kaltim Buka Sastraloka 2026, Merawat Sastra Tradisi lewat Tarsul dan Bedandeng

Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) membuka kegiatan Sastraloka 2026 pada 8 Agustus 2026 di Kopi Jadi Cultural Space, Samarinda.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer