“Saat ini, merekalah keluarga saya. Kami selalu bersama-sama, banyak menghabiskan waktu bersama dan berjuang bersama,” ungkapnya.
Kepada Radar Banjarmasin, Nanad menceritakan awal perkenalannya dengan dunia dayung. “Usia saya masih 13 tahun, dikenalkan dayung oleh tante (Halimatus Sa’diyah). Beliau atlet dayung Kota Banjarmasin,” ungkap atlet yang juga hobi bermain futsal ini.
Meski tidak memiliki darah seorang pedayung dari kedua orang tuanya, Hadi Yani dan Dewi Indrayani, lingkungannya memang sangat mendukung.
“Kebetulan rumah saya memang berada di tepian Sungai Martapura. Jadi memang sangat dekat dengan air,” ceritanya. Meski jarang ada perempuan yang mau menjadi atlet dayung, hal tersebut rupanya tidak menyurutkan dukungan dari orang terdekatnya.“Keluarga dan orang tua sangat mendukung, paling yang biasanya mempertanyakan itu teman-teman sekitar saja. Tapi, tekad saya bulat untuk mengharumkan nama keluarga, Banua dan Indonesia melalui olahraga dayung,” tegasnya. Ke depan, Nanad berharap bisa terus membela Indonesia di ajang yang lebih tinggi dan bergengsi lagi.
“Semoga konsisten hingga bisa ikut Sea Games. Target saya bisa tampil di Asian Games 2023 di Huangzhou,” harapnya. (bir/gr/fud)


