
Kanker menyebabkan kematian tertinggi di dunia, hingga angka 10 juta kasus pada 2020. Hampir 70 persennya terjadi di negara berkembang, termasuk Indonesia.
==================
Menjelang usia 60 tahun, komedian Tri Retno Prayudati alias Nunung divonis mengidap kanker payudara. Penyakit itu diketahui setelah dia menyadari ada benjolan di payudaranya yang kian membesar. Saat ini Nunung masih menunggu hasil pemeriksaan mendalam terkait penyakitnya itu.
’’Belum tahu stadiumnya, nanti hari Sabtu (hari ini). Ya tapi mudah-mudahan nggak ada stadium-stadium,’’ kata Nunung saat ditemui di kawasan Mampang, Jakarta Selatan, Kamis (2/2).
Namun, dia mengungkapkan, dokter sudah memprediksi kanker yang diidapnya mengarah ke keganasan. ’’Aku down banget saat didiagnosis dokter mengarah ke kanker ganas,’’ ucapnya.
Nunung tak bisa bereaksi ketika mendengar keterangan tersebut. Istri Iyan Sambiran itu mengaku stres. ’’Aku lemas banget, nggak bisa ngomong apa-apa. Iya (stres), air mata keluar. Dalam bayanganku cuma operasi, kemoterapi, operasi, kemoterapi, gitu aja,’’ tutur Nunung.
Anggota grup lawak Srimulat itu juga tak bisa menutupi ketakutannya menghadapi rangkaian proses pengobatan selanjutnya. ’’Aku takut kemoterapi. Nggak keruan. Kalau habis operasi kan pastinya kemoterapi. Itu jangka panjang,’’ ujarnya.
Apalagi, Nunung masih ingat betul momen salah seorang saudaranya yang pernah menderita kanker. Dan, efek samping ketika menjalani kemoterapi. ’’Aku ngurusin kakak. Pernah lihat rambutnya rontok, bahkan habis,’’ jelasnya.
Meski begitu, Nunung bertekad untuk tetap berikhtiar agar bisa terbebas dari penyakit tersebut. Menurut dia, masih ada hal baik dan harapan besar dari setiap musibah yang didapat. Terlebih, Nunung memiliki support system yang baik di kehidupannya. Baik dari keluarga maupun lingkup pertemanan.
’’Aku terus berdoa minta kekuatan sama Allah. Aku percaya Allah memberikan yang terbaik, tapi yang terjelek pun bisa kuterima. Udah nggak takut lagi sekarang. Nggak ada yang gundul-gundul lagi karena ada juga yang rambutnya masih ada. Cuma dipotong aja,’’ terang Nunung.
ALAT PCR BISA UNTUK DETEKSI
Kanker merupakan penyakit mahal. Apalagi jika terlanjur fatal. Untuk itu pemerintah berupaya untuk melalukan deteksi dini.
Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes Maxi Rondonuwu menyatakan, kanker merupakan penyebab kematian tertinggi di dunia dengan 10 juta kematian pada 2020. Hampir 70 persen kematian akibat kanker terjadi di negara berkembang termasuk Indonesia.
"Hal ini sangat disayangkan, karena sesungguhnya menurut penelitian bahwa 50 persen kematian akibat kanker sesungguhnya dapat dicegah," katanya. Maxi menyatakan, cara mengurangi angka kematian adalah dengan menghindari faktor risiko dan melakukan deteksi dini secara berkala.
Beban biaya kanker tak sedikit. BPJS Kesehatan pada 2020 mencatat kanker sebagai penyakit katastropik dengan pembiayaan terbesar kedua, yaitu senilai Rp 3,5 triliun.
"Angka kejadiannya yang cukup tinggi dan juga beban biaya serta dampak sosial yang ditimbulkan," ungkapnya.
Kanker pada anak juga telah menjadi masalah. Setiap tahunnya, diestimasikan 400.000 anak dan remaja usia 0–19 tahun menderita kanker. "Berdasarkan Globocan pada 2020, diestimasikan terdapat 11.156 kasus baru kanker pada anak pada usia 0–19 tahun di Indonesia, dengan kasus terbanyak adalah leukemia sebanyak 3.880 kasus," ucap Maxi.
Ada berbagai program untuk deteksi dini. Menurut pengalaman Maxi yang pernah jadi direktur rumah sakit, banyak orang yang terkena kanker bisa sembuh ketika bisa deteksi dan ditangani.
"Program nasional deteksi dini kanker leher rahim yang saat ini adalah pemeriksaan Inspeksi Visual Asam asetat (IVA) pada wanita usia 30–50 tahun yang sudah pernah melakukan hubungan seksual," katanya.
Maxi menyatakan mulai tahun ini pemerintah punya program anyar. "Dengan menggunakan teknologi APV DNA yang bisa gunakan alat PCR yang kita miliki," ungkapnya.
Metode ini bisa temukan kanker lebih dini. DKI Jakarta mulai melakukan pada bulan ini. Sementara untuk kanker payudara ada Kampanye Periksa Payudara Sendiri (Sadari) yang dilakukan secara mandiri setiap bulan dan Periksa Payudara Secara Klinis (Sadanis) dilakukan oleh tenaga kesehatan dengan interval pemeriksaan setiap tiga tahun.
Dokter spesialis bedah ongkologi dr Rian Fabian Sofyan SpB.Subsp.Onk(K) menyatakan, sembilan orang yang terkena kanker payudara di negara maju hanya satu yang meninggal. Namun, di Indonesia 25 persen dari 10 penderita kanker payudara meninggal. "Nah artinya ada masalah di Indonesia," ujarnya.
Pasien di Indonesia, menurut Rian, banyak yang barus mengetahui setelah stadium lanjut. Misalnya saja di RS Darmais, 72 persen pasien yang datang sudah stadium lanjut. (lyn/shf/c18/ayi/jpg/dwi/k8)
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

