“Risikonya besar. Gak sebanding. Makanya, saya gak jadi atlet balap. Soalnya sayang badan,” lanjut pemuja Valentino Rossi ini.
Tapi tambah Ayu, poin pentingnya bukan bagaimana dia bisa menempuh Pagatan – Banjarmasin 3,5 jam di tengah malam buta. Maksudnya, gairah anak muda itu ada di lapangan.
“Saya suka sedih. Kalau lihat anak sekarang habis waktunya main hape. Padahal, di lapangan itu jauh lebih indah. Lebih bergairah, lebih bahagia.”
Masa muda menurutnya hanya sekali. Sayang jika dihabiskan bermain atau menonton konten-konten di media sosial. “Lain cerita, kalau memang dia bekerja di dunia itu,” tekannya.
Bertemu dengan orang-orang di lapangan, olahraga dan bertualang dia yakini akan menempa karakter anak muda. Jadi percaya diri dan mandiri.
Keyakinannya itu tergambar dalam cita-citanya, mau jadi pengusaha sukses. Supaya bisa berbuat banyak untuk orang lain. (zal/gr/fud)


