
RAUDHAH Supian Noor lahir di Martapura yang berjuluk Kota Santri, 37 tahun silam. Belum lama ini, dia mengharumkan nama Indonesia dalam ajang MTQ Internasional Antarbangsa 2023 di Kuala Lumpur, Malaysia. Raudhah menjadi qariah terbaik kedua.
Ibu dua anak itu dikirim ke Malaysia karena dialah juara pertama MTQ Nasional 2022. Lahir di keluarga yang religius, Raudhah diajari ayahnya membaca Al-Qur’an seusai salat magrib berjemaah di rumah. Kala itu, orang tuanya mendatangkan ustaz untuk mengajari kakak laki-lakinya. Sambil bermain, Raudhah mencuri dengar kedua kakaknya yang sedang belajar tilawah (mengaji dengan lantunan nada).
“Ternyata saya dengan mudahnya bisa mengingat dan mengulangi bacaan hingga lantunan iramanya,” kenangnya, Kamis (31/8). Orang tua Raudhah melihat itu. Menyadari putrinya memiliki bakat menjadi seorang qariah.Raudhah yang baru 10 tahun dan duduk di kelas V SD kemudian dicarikan guru khusus tilawah. Nama beliau adalah Haji Muhammad Yusri asal Sungai Tabuk.
“Seminggu sekali, setiap Ahad saya latihan sama beliau. Berangkat sore dan pulang bakda magrib,” kisahnya kepada Radar Banjarmasin. Sejak itu, prestasi terus berdatangan. “Alhamdulillah, sampai akhirnya juara dua internasional,” ungkapnya.
Raudhah berangkat ke Malaysia dengan persiapan minim. Sebab ia baru saja pulang berhaji, belum sempat lama latihan. “Saya lulus tes seleksi haji. Lolos dan mendampingi para haji lansia. Jadi waktu itu fisik sedang lelah banget,” ujarnya. Setelah 40 hari bertugas di tanah suci, dia pulang ke Banua pada 30 Juli. Pada 17 Agustus harus berangkat ke Kuala Lumpur.
“Rasanya minim persiapan, tapi yakin saja bisa bersaing. Karena sudah latihan setahun penuh untuk MTQ di Kiram kemarin,” ujarnya.
Utamanya, Raudhah harus melatih taranum (alunan) yang sesuai dengan aturan di Malaysia. Dia tak menyangka, tiba di Malaysia dia mendapat sambutan hangat. “Kami diundang ke istana untuk makan bersama raja dan ratu. Para staf MTQ Malaysia sampai berterima kasih kepada kami. Karena sangat jarang orang biasa bisa masuk istana,” ujarnya tertawa. Juara pertama adalah qariah asal Maroko, skornya 93,05 poin. Sedangkan Raudhah mendapat 92,21 poin. Selisihnya tipis sekali. “Hanya berbeda 0,84 poin. Tapi saya yakin penilaian itu adil,” katanya.
Untuk sampai ke titik ini, tentu banyak ujian. Raudhah mengaku pernah terpuruk ketika berpindah dari kategori tilawah remaja ke dewasa.
Dia masih 17 tahun dan baru keluar sebagai juara. “Di fase ini, suara saya belum stabil untuk memasuki kategori dewasa. Akhirnya sering gugur dalam perlombaan,” kisahnya. “Saya sempat vakum selama tujuh tahun,” sambungnya. Gurunya semasa kecil, Kiai Ilyas mendengar kisah sedih itu.
Beliau lalu mengundang Raudhah datang kerumahnya untuk memberikan motivasi. “Beliau membangkitkan jiwa saya. Akhirnya saya belajar lagi dan kembali mengikuti lomba,” tutupnya. (mr-159/gr/fud)
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

