
WAKATOBI merupakan kabupaten di bawah wilayah administrasi Sulawesi Tenggara. Daerah yang terbentuk dari gabungan beberapa pulau besar, yakni Wangiwangi, Kaledupa, Tomia, dan Biongko. Konon, nama Wakatobi lahir dari gabungan nama keempat pulau induk tersebut.
Seperti yang mengantarkannya sebagai daerah masyhur di dunia pariwisata, Wakatobi terkenal berkat deretan kegiatan budaya dan destinasi wisata alamnya yang memesona. Beda pulau, beda cerita. Hal tersebut yang membuat Anda harus menyediakan waktu cukup bila ingin mencapai kata puas dalam pelesiran ke Wakatobi.
Untuk menjangkau kawasan Wakatobi, tergolong mudah. Dari Kaltim, Anda bisa memulai perjalanan melalui udara maupun laut. Bila dari udara, akses termudah yakni penerbangan dari Samarinda atau Balikpapan ke Makassar.
Nah, setelah transit semalam di Makassar, lanjutkan penerbangan ke Wakatobi dengan terlebih dulu transit di Bandara Haluoleo Kendari untuk pindah pesawat. Kemudian mendarat di Bandara Matahora di Pulau Wangiwangi. Penerbangan ke Wangiwangi tidak setiap hari. Karena itu, penting sekali untuk mencermati rute dan jadwal penerbangan agar semua berjalan sesuai flow.
Bila ingin menjangkau kawasan Wakatobi melalui laut dari Kaltim, juga tersedia. Hanya, tentu ada konsekuensi waktu yang lebih panjang, meski harganya lebih miring bila dibandingkan jalur udara. Perjalanan bisa dimulai dengan pelayaran satu hari penuh dari Pelabuhan Semayang Balikpapan ke Pelabuhan Soekarno-Hatta di Makassar. Dari Makassar, lanjut bertolak ke Pelabuhan Kendari. Nah, dari Kendari, mampir dulu ke pelabuhan di Buton Utara, hingga akhirnya tiba di Pelabuhan Wangiwangi.
Sebagai ibu kota Kabupaten Wakatobi, Wangiwangi memiliki sederet destinasi wisata yang bisa dikunjungi di sana. Yang paling mencolok adalah wisata sejarahnya. Sebab, terdapat sederet benteng yang menjadi saksi bisu perkembangan adat, budaya, dan agama masyarakat di sana. Sebut saja Benteng Tindoi, Liya, Mandati Tonga, hingga Togo Molengo.
Nah, setelah puas menapaktilasi sejarah di Pulau Wangiwangi, Anda bisa melanjutkan pelesiran ke pulau berikutnya. Ada Pulau Kaledupa, tempat Taman Nasional Wakatobi berdiri. Tentu yang paling menjadi incaran para wisatawan adalah kesempatan menyelam ke lautannya yang biru dengan visibilitas yang tinggi. Di sana Anda akan bisa menemukan sedikitnya 500 jenis terumbu karang dan 350 spesies ikan.
Di daratnya, ada pula Desa Wisata Kahianga yang menyediakan banyak kegiatan menarik serta suvenir khas masyarakat di sana. Tentu ada pula Benteng Ollo dan La Donda yang menjadi sejarah peninggalan kebudayaan masyarakat Kaledupa.
Bergeser pula ke Pulau Tomia. Di sana juga terdapat diving spot yang elok ataupun benteng pertahanan yang masih kukuh hingga kini. Sebab, karakteristik semua pulau di kawasan Wakatobi memang hampir semuanya memiliki situs yang sama.
Namun, di Tomia terkenal karena kebudayaannya yang lebih beragam. Bila Anda beruntung, bisa menyaksikan sederet kegiatan adat di sana yang digelar pada kurun waktu tertentu. Salah satunya pesta adat Safara, masyarakat berpesta setiap bulan Safar tahun Hijriah.
Ada pula tradisi Bose-Bose, masyarakat berduyun-duyun memoles perahu dengan warna cerah dan diisi dengan makanan traidisional. Kemudian diarak berkeliling pantai sambil menabuh gendang. Tradisi tersebut sebagai simbol pengharapan agar dosa manusia bisa hanyut bersama riaknya air laut.
Ada pula tari-tari tradisional seperti sajo moane, tarian sakral para lelaki Tomia. Ada pula sajo wowine yang juga sakral, tetapi khusus perempuannya. Kemudian tari saride yang melambangkan persatuan dan kebersamaan dalam menyelesaikan hal yang menyangkut kepentingan umum.
Setelah puas dengan wisata alam dan budayanya, jangan lupakan wisata kulinernya. Ada beragam hidangan ringan maupun berat yang bisa membuat teringat dengan Wakatobi.
Salah satu yang paling populer adalah kasuami. Bagi masyarakat di sana, kasuami jadi makanan yang tak terpisahkan. Sebab, perannya setara dengan nasi. Konon, kasuami jadi bekal para pelaut Wakatobi lantaran bisa tidak pulang hingga berminggu-minggu.
Terbuat dari singkong yang diparut dan diperas airnya hingga kering, kemudian dikukus. Tidak ada rasa yang spesial dari kasuami. Sebab, dia baru akan menjadi sangat memorable di lidah ketika Anda memakannya dengan hidangan berkuah ataupun berlauk dengan bumbu yang kuat ala Wakatobi. Karakternya yang mampu menyerap cita rasa makanan pendamping tersebut menjadikan kasuami begitu nikmat ketika dimakan. (ndy2/k16)
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

