Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Jangan Katakan Sanga Sanga Tidak Mencintaimu”, Perlawanan Musik dari Single Baru Gimme New Rhime

E
Artwork single Jangan Katakan Sanga Sanga Tidak Mencintaimu oleh Gimme New Rhime (Ist/GNR)
Artwork single Jangan Katakan Sanga Sanga Tidak Mencintaimu oleh Gimme New Rhime (Ist/GNR

Advertisement

PROKAL.CO, TENGGARONG - Di sebuah kota kecil di tepi Sungai Mahakam, musik tumbuh di tengah stigma. Bagi Gimme New Rhime (GNR), berkarya bukan sekadar hobi—melainkan cara bertahan dan membuktikan bahwa suara dari Kecamatan Sangasanga, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) layak didengar.

Anggapan bahwa bermusik adalah hal sia-sia masih melekat di sebagian masyarakat Sangasanga atau yang lebih dikenal sebagai Kota Juang Kukar. Namun, stigma itu justru menjadi bahan bakar bagi band indie rock Gimme New Rhime untuk terus berkarya.

Melalui single terbaru berjudul “Jangan Katakan Sanga Sanga Tidak Mencintaimu” yang dirilis pada 22 April 2026, mereka menyuarakan keresahan sekaligus kebanggaan terhadap kota asalnya.

Advertisement

Lagu ini lahir dari pengalaman panjang para personel yang kerap mendapat penilaian miring. Mulai dari dianggap tidak dewasa hingga dipandang sebelah mata karena memilih jalur musik.

Alih-alih menyerah, mereka menjawab dengan karya. Lagu tersebut menjadi bentuk perlawanan sekaligus refleksi atas perjalanan mereka selama ini.

“Kota kecil itu bernama Sangasanga dan kami selalu bangga kalau menyebutkannya. Lagu ini menjadi refleksi sekaligus bentuk semangat dalam perlawanan bersama. Besar kecilnya bukan merupakan halangan dalam berkontribusi dengan hal yang tidak biasa,” ujar vokalis Gimme New Rhime, Cikal.

Advertisement

Single ini juga merekam perjalanan kolektif mereka bersama Sumber Rejeki Kolektif, ruang kreatif yang telah dibangun sejak 2017. Di tengah rutinitas pekerjaan, mereka tetap menyisihkan waktu untuk bermusik.

Tak hanya bicara soal stigma, lagu ini juga mengangkat identitas lokal. Sejumlah elemen khas Sangasanga dimasukkan ke dalam lirik, mulai dari kisah “Selendang Merah”, rumah sakit tua yang kini menjadi taman, hingga pembangunan patung Presiden Soekarno.

Potongan-potongan cerita itu dirangkai menjadi memori kolektif tentang kota kecil dengan dinamika besar.

Secara musikal, Gimme New Rhime tetap mempertahankan karakter keras dengan lirik tajam. Emosi yang muncul dalam lagu ini terasa lebih eksplosif, sekaligus jujur.

Advertisement
Editor : Indra Zakaria
Sumber : prokal.co
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
ProkalIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer