Nobar “Pesta Babi” di Unikarta, Mahasiswa bersama Jurnalis Suarakan Isu Ekologi

PROKAL.CO, TENGGARONG – Nonton bareng film “Pesta Babi” karya Dandhy Laksono dan Cypri Paju Dale kembali bergulir di Kecamatan Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar). Jika sebelumnya nobar ini dilaksanakan komunitas film, kini nobar dilaksanakan mahasiswa bersama insan pers. Wahana Mahasiswa Pecinta Alam (Wamapala) Universitas Kutai Kartanegara (Unikarta) menginisiasi nobar ini bersama Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Kukar.
Nobar dilaksanakan secara sederhana di food court Unikarta, Sabtu (9/5/2026) malam. Bermodalkan proyektor, layar putih dan speaker—ditemani aneka ragam pangan rebusan, kopi dan es jeruk. 90 menit berlalu begitu saja, seluruh penonton yang memadati lokasi menyaksikan seksama bagaimana film ini menggambarkan dampak ekologis yang dirasakan masyarakat adat selatan Papua.
Untuk diketahui, film “Pesta Babi—Kolonialisme di Zaman Kita” tercipta dari buah tangan Dandhy Laksono yang juga jurnalis investigative senior. Ia telah terkenal melalui film “Dirty Killer” bersama Watch Doc. Melalui film Pesta Babi ini, ia memvisualisasikan perjuangan masyarakat adat di selatan Papua mempertahankan tanah leluhur dari proyek raksasa mengatasnamakan "ketahanan pangan" dan "transisi energi"dan sejarah panjang eksploitasi Papua dalam bentuk film dokumenter.
Ketua SMSI Kukar Angga Triandi mengatakan organisasinya dalam hal ini sangat mendukung apa yang diinisiasi oleh Wamapala Unikarta. Adapun yang disampaikan pada film ini membahas tentang dampak ekologi telah dirasakan langsung oleh masyarakat Papua. Pun secara lokal, Kutai Kartanegara juga menghadapi hal yang kurang lebih sama.
“Seperti di sekitar IKN, masyarakat menyebut program belum memberikan solusi terhadap masyarakat yang terdampak. Di kecamatan Kota Bangun Darat juga masyarakat adat menyuarakan terkait wilayah pangan dan lahan adat yang dikelilingi konsesi tambang,” ujar Angga.
Pers sebagai kontrol di masyarakat mesti berperan dalam hal ini. Untuk itu Angga juga meminta kepada jurnalis di Kukar lebih sadar dan peduli terhadap isu ekologi ini. Sehingga apa yang tak dapat disuarakan masyarakat tersebut dapat disuarakan oleh jurnalis dan media. “Karena pada dasarnya ini adalah tugas kita sebagai penyambung lidah masyarakat melalui produk jurnalistik kita,” tegasnya.
Di sisi lain, Ketua Wamapala Unikarta Almadani menyampaikan apresiasi kepada seluruh penonton yang hadir dan dukungan penuh SMSI Kukar. Film “Pesta Babi”, ujar Dani, mesti menjadi ruang refleksi pemuda saat ini. Untuk lebih sadar dan peduli terhadap isu ekologi, sebagaimana alam mesti dirawat untuk generasi selanjutnya.
“Semoga melalui nobar ini seluruh pemuda di Kukar dapat lebih peduli terhadap isu lingkungan,” tuturnya.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




